Imam dan Amin: Kain Sarung yang Progresif

Kompas.com - 16/01/2009, 05:46 WIB

Oleh: Winarto Herusansono

Kain sarung bermotif kotak-kotak dengan nuansa warna kecoklatan, itu sarung konservatif yang populer pada tahun 1980-an. Sekitar lima tahun terakhir, motif sarung konservatif seperti itu mulai ditinggalkan konsumen, terutama kaum muda.

Namun, jangan buang sarung kuno itu, simpan saja. Siapa tahu 30 tahun nanti motif itu tren lagi. Itulah yang dikatakan Imam Ismanto Bakti di tempat usahanya, Pekajangan, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Amin Salim Basymeleh, pendiri PT Duta Ananda Utama Tekstil (Dutatex) pada 1974, menambahkan, tahun 2004-2005 bermunculan sarung yang menawarkan jumlah volume benang, ada yang 6.000 benang atau 8.000 benang. Semakin banyak jumlah benang, sarung makin halus dan awet.

Perang bisnis sarung dengan volume benang itu mengadopsi produk sarung tahun 1940-an. Kala itu, sarung yang mencantumkan volume benang berasal dari Garut, Jawa Barat, dengan dominasi cap Padi.

Bisnis produksi sarung telah menghidupi ribuan perajin. Kejayaannya dimulai dengan sarung palekat. Sebelum 1985 hanya perajin pengguna alat tenun bukan mesin (ATBM) yang bisa menghasilkan sarung berkualitas tinggi. ”Ketika industri kecil ini dibangun, kami juga membuat sarung palekat dengan ATBM. Ketika itu, produksi hanya 1.680 kodi per bulan,” kata Amin.

Ketekunan dan kesabaran Amin membuat usahanya berkembang hingga kini. Ia setia memproduksi sarung palekat. Perjumpaan dengan Imam yang pernah berdagang sarung dan batik di kota-kota di Jawa tahun 1991 membawa perubahan yang inovatif.

Di Kabupaten dan Kota Pekalongan, Dutatex bukan perusahaan besar. Tahun 1990-2005 produsen sarung ini kalah pamor dibandingkan dengan pembuat sarung bermerek populer. ”Sebagai industri kecil, kami memegang prinsip tak membuat sarung secara massal. Kami lebih menciptakan desain motif sarung yang inovatif,” kata Imam.

Dutatex kini menghasilkan 8.000-10.000 kodi sarung per bulan. Jumlah ini relatif kecil dibandingkan dengan produksi sarung di Pekalongan dan sekitarnya yang mencapai 8.600 kodi per hari. Meski skala usahanya kecil, Dutatex meraih penghargaan Upakarti 2008 untuk kategori industri kecil dan menengah (IKM) modern yang inovatif.

Kekuatan desain

Di tengah krisis mereka mampu mempertahankan karyawan yang jumlahnya tak kurang dari 900 orang. Sekitar 50 persen produknya pun sudah diekspor. Pada krisis global kini justru banyak perusahaan pembuat sarung kehabisan stok. Dutatex juga tak menyimpan stok lebih dari seminggu. Pasar ekspor mereka yang mayoritas di Timur Tengah dan Afrika justru meningkat permintaannya. ”Permintaan dalam negeri juga meningkat sampai 30 persen seiring dengan meredupnya produksi sarung cap atau sarung printing yang booming pada 2005-2006,” kata Amin.

Sarung printing berciri desain atraktif. Namun, konsumen meninggalkan sarung berwarna cerah ini setelah tahu kualitasnya. Kain sarungnya kasar, bahannya licin, dan warnanya cepat pudar. Ceruk pasar yang ditinggal sarung printing ini lalu menjadi peluang yang belum terisi.

Amin mengakui, kemampuan produksi sarungnya masih jauh dari kebutuhan pasar. Katakanlah penduduk Indonesia yang gemar memakai sarung 100 juta, sedangkan kapasitas produksi nasional baru 2,7 juta kodi per tahun atau 54 juta potong, maka peluang bisnis sarung masih terbuka.

”Apalagi ada beda kebiasaan budaya sarung antara orang di kota dan di desa. Orang kota minimal setahun sekali ganti sarung, sedangkan di desa orang beli sarung tiga-empat potong. Tiap ada hajatan, orang desa mau pakai sarung baru,” kata Amin, Direktur Utama Dutatex.

Agar bertahan, Amin dan Imam tak henti berinovasi. Keduanya melakukan riset kecil-kecilan, termasuk mempelajari kultur dan karakter konsumen sarung di setiap provinsi. Sejak tahun 2000 mereka memetakan pemasaran sarung berdasarkan kultur, karakter, dan kesukaan warna di masing-masing provinsi.

”Ibarat koki di restoran, Pak Amin ini tukang mengumpulkan dan meracik bumbu, saya yang memasak. Ketika ada bumbu untuk menu masakan baru, saya harus bisa mengajari para koki mewujudkan masakan baru itu,” kata Imam, pimpinan perusahaan Dutatex.

Dari riset itu, mereka tahu konsumen sarung di Jawa Barat umumnya tak suka warna cerah. Adapun kaum muda di kota justru gemar sarung dengan desain dan warna cerah. Sementara itu, ulama dan konsumen yang hidupnya mapan menyukai sarung berwarna lembut dengan motif lebih variatif.

Berbekal riset itulah Amin dan Imam mendesain motif dan warna sarung. Keduanya menyebut desain ulang sarung itu sebagai proyek progresif. Desain sarung itu tak melulu kotak-kotak atau motif salur (lurik).

Gradasi warna

Ide untuk mendesain ulang motif itu muncul saat bisnis sarung stagnan pada 2002-2004. Dalam waktu bersamaan, jiplak-menjiplak produk dan merek juga marak. Sarung produksi Dutatex bermerek Sapphire pun dibajak pesaing, diberi merek Sapphira dan dikemas sama.

Pada waktu itu pula Amin paham, konsumen menyukai sarung ATBM. Kelebihannya terletak pada motif yang bisa timbul, dibuat nonlurik atau kotak dan bunga.

Didorong tekad mencairkan kebuntuan pasar sarung, Amin dan Imam membuat sarung dari corak palekat biasa ke corak songket. Corak songket dipilih karena memungkinkan motif dan desain lebih luas variasinya.

Keduanya lalu memodifikasi mesin tenun bak 4 menjadi mesin tenun bak 8. Modifikasi ini berlangsung lambat sebab karyawan pun perlu waktu untuk memahami sistem kerja mesin.

Paduan antara modifikasi mesin, penambahan dobby dan jacquard, serta kejelian Amin mencermati motif batik yang berkembang mampu mendobrak kebekuan pasar sarung. Produk sarung Sapphire pun laris, baik yang bermotif tikar dobby, kembang-kembang, maupun motif lurik dengan gradasi warna.

Lewat inovasi itu, Dutatex bisa menghasilkan empat jenis sarung, yang bermotif konvensional, dobby, jacquard, dan tikar dobby. Untuk produk sarung ekspor ditambah kain sorban polos, dobby, dan jacquard. ”Kami juga mulai melengkapi produk sarung dengan paduannya, seperti baju koko,” kata Imam menambahkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau