Kasus DBD di Sleman Menurun

Kompas.com - 17/01/2009, 14:48 WIB

YOGYAKARTA, SABTU — Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2008 tercatat turun dibandingkan tahun 2007, baik dari sisi jumlah penderita, maupun korban jiwa.
     
"Pada 2007 terjadi 755 kasus  dengan delapan orang meninggal dunia, sedangkan pada 2008 lalu jumlah kasus DBD ada 621, dengan korban meninggal dunia lima orang," kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dr Mafilindati Nuraini, M Kes, Sabtu.

Menurut dia, Dari sejumlah kasus DBD di kabupaten Sleman pada tahun 2008 terinci pada Januari 144 kasus, Februari 98 kasus, Maret 87 kasus, April 89 kasus, Mei 80 kasus, Juni 33 kasus, Juli 11 kasus, Agustus 10 kasus, September 7 kasus, Oktober 8 kasus, November 21 kasus, dan Desember 33 kasus.

"Meskipun terjadi penurunan pada 2008, namun pada 2009 ini ancaman DBD tetap perlu diwaspadai karena, seiring dengan curah hujan yang tinggi di musim penghujan yaitu pada Desember 2008 sampai dengan Maret 2009, sangat berpotensi timbulnya penyakit DBD," katanya.

Ia mengatakan, hingga pertengahan Januari 2009 ini tercatat sudah terdapat 17 kasus DBD dan belum sampai menimbulkan korban jiwa.

"Kasus DBD di tingkat Kecamatan pada 2008 mulai terjadi pergeseran, jika pada 2007 yang lalu urutan kedua jumlah kasus DBD adalah Kecamatan Mlati pada 2008 urutan kedua Kasus DBD berpindah ke Kecamatan Gamping, sedangkan untuk jumlah kasus yang terbesar tetap di wilayah Kecamatan Depok," katanya.

Ia mengatakan, pencegahan penyakit DBD tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga perlu sepenuhnya dukungan peran serta masyarakat secara aktif untuk memutus mata rantai penularan dengan cara membasmi jentik nyamuk secara terus menerus.

"Selain cara paling mudah dan efektif dengan gerakan 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menimbun, juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur," katanya.

Ia menambahkan, upaya lain adalah dengan memasang kasa pada ventilasi, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat anti-nyamuk, memeriksa jentik berkala yang sesuai dengan kondisi setempat.

"Sarang nyamuk ada di mana-mana, tidak hanya kaleng dan botol bekas. Ternyata dari hasil pemantauan yang dilakukan secara rutin dengan gerakan pemantauan jentik berkala (GJB) jentik juga didapati pada tonggak bekas tebangan pohon bambu yang masih berada di rumpun bambu," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau