Presidden SBY: Dunia Tak Lagi Bisa Biarkan Israel

Kompas.com - 17/01/2009, 21:28 WIB

JAKARTA, SABTU- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai bahwa dunia internasional tidak dapat lagi membiarkan kekejaman Israel di Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 1.000 warga Palestina terus berlanjut.

"Saat ini sedang terjadi tragedi kemanusiaan yang tidak pernah terbayangkan. Sudah melampaui batas. Sebuah tragedi yang tidak mungkin umat sedunia membiarkan," kata Presiden Yudhoyono di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (17/1), mengenai agresi yang telah berlangsung sejak 27 Desember 2008 itu.

Lebih lanjut Presiden mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambatnya Dewan Keamanan PBB dalam mengeluarkan resolusi Nomor 1860 dan pengabaian resolusi itu oleh Israel.

"Alasan itulah yang kemudian menjadi dasar bagi pemerintah Indonesia untuk terus mendorong pelaksanaan Sidang Darurat Majelis Umum PBB," katanya. 

Menurut Kepala Negara, apabila Israel bersikeras tidak mendengar seruan DK PBB, maka biarlah dunia mendengar suara masyarakat internasional melalui resolusi Sidang Darurat Majelis Umum PBB yang berlangsung akhir pekan ini.

Pada kesempatan itu Presiden juga menjelaskan komitmen Indonesia untuk membantu rakyat Palestina dengan cara mengirimkan bantuan obat-obatan, makanan, tenaga kesehatan dan uang tunai senilai satu juta dolar AS.

"Ada yang bertanya kenapa kita tidak mengirimkan sukarelawan untuk jihad, saya komunikasikan dengan para otoritas Palestina apa yang paling mereka butuhkan dan mereka katakan mereka tidak membutuhkan tambahan tank atau bom namun makanan dan obat-obatan," katanya.

Presiden juga mengatakan bahwa seandainya gencatan senjata dapat terwujud di Gaza maka pemerintah Indonesia juga telah berkomitmen untuk terlibat dalam pengiriman pasukan penjaga perdamaian.

Sementara itu akhir pekan ini Sidang Darurat Majelis Umum PBB mendesak gencatan senjata segera yang bertahan lama di Jalur Gaza, terutama penarikan pasukan Israel sepenuhnya dari wilayah itu.

Dalam suatu resolusi tak mengikat yang diubah, badan yang beranggotakan 192 negara tersebut hampir dengan secara bulat memberi suara untuk mendesak "penghormatan penuh"  resolusi No.1860 yang menyerukan "suatu gencatan senjata segera, bertahan lama dan sepenuhnya dipatuhi, terutama penarikan seluruh pasukan Israel dari Jalur Gaza.

Resolusi itu diadopsi melalui perdebatan berjam-jam dengan suara 142 menerima, enam menolak, dan sisanya abstain. Resolusi Dewan Keamanan PBB 1860 juga menyerukan agar "tidak dihambatnya penyediaan dan distribusi bantuan kemanusiaan, termasuk bahan makanan, bahan bakar dan obat-obatan di seluruh Jalur Gaza".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau