Gencatan Senjata Palestina, Gus Dur Pro Hillary Clinton

Kompas.com - 18/01/2009, 18:56 WIB

JAKARTA, MINGGU - Ketua Umum Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa, Abdurrahman Wahid, mengaku pro dengan Hillary Clinton dalam menyikapi konflik Palestina-Israel. Menurut dia, Hamas harus diikutsertakan dalam pada perundingan gencatan senjata.

"Dalam perundingan Hamas seharusnya dilibatkan karena sebenarnya yang butuh hamas. Butuh makanan dan obat-obatan. Harusnya Hamas juga mengakui Israel. Agar Israel otomatis mengakui Palestina," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung DPP PBNU, Jakarta, Minggu (18/1).

PBB telah mengeluarkan resolusi terbaru agar Israel menghentikan serangannya ke Palestina. Namun, resolusi tersebut tidak mencantum penarikan pasukan Israel di Jalur Gaza. "Israel pinter. Dia menghadapi kenyataan seluruh dunia ini menentang. Kebijakan israel yang mengatakan menyerang Jalur Gaza. Bahkan ada yang memutuskan hubungan diplomatik, seperti Venezuela dan Kolombia, dan sebelum meluas ke mana-mana, mereka memutuskan gencatan senjata," tuturnya.

Sekjen PKB, Yenny Wahid, mengatakan saat ini yang harus didorong adalah perundingan dialogis antarkedua kubu, sehingga perang yang memakan banyak korban segera berakhir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau