Laporan wartawan Kompas Ingki Rinaldi
JOMBANG, MINGGU — Kampanye aktivis dan penggiat budaya, Ratna Sarumpaet, sebagai calon presiden yang akan maju pada Pemilu 2009 dengan menumpang pada kegiatan bertajuk Silaturahmi Revolusi Budaya dan Sosialisasi Karya Budaya di Kafe Bale Apung Taman Tirta Wisata, Jombang, Minggu (18/1) mendapat tentangan keras.
Tentangan itu datang dari Kepala Seksi Kebudayaan kantor Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Parbupora) Kabupaten Jombang Nasrul Ilahi yang jadi fasilitator kegiatan itu.
Nasrul yang hanya diberitahu lewat layanan pesan singkat (SMS) soal keinginan Ratna berdialog soal kebudayaan di Jombang itu merasa kecolongan. Sebagai tuan rumah, ia dimintai tolong untuk menyediakan tempat dan fasilitator bagi sejumlah peserta yang rencana awalnya mendiskusikan soal-soal kebudayaan itu. "Ratna ya harusnya bicara budaya saja, jangan ditarik-tarik soal pemilihan presiden. Komitmen seperti apa di bidang budaya, jangan soal pemilihan presiden yang dibicarakan," ujar Nasrul.
Ratna sempat ingin memindahkan kegiatan itu ke Surabaya saat diingatkan oleh Nasrullah agar kembali pada fokus diskusi soal kebudayaan. Namun, akhirnya dialog tersebut kembali diteruskan. Namun, dialog yang kemudian berkembang pun akhirnya mau tidak mau tetap terus membicarakan soal pencalonan Ratna sebagai presiden.
"Saya mau maju menjadi presiden secara serius, saya mau ada perubahan secara drastis," kata Ratna. Ia menambahkan, kepahlawanan Marsinah adalah salah satu faktor pendorong yang memicunya maju sebagai calon presiden.
Kunjungan ke Jombang itu merupakan rangkaian kunjungan dua hari sebelumnya yang dilakukan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dan mengunjungi makam Marsinah yang jadi ikon pahlawan buruh modern di Nganjuk.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang