Api Plumpang Tidak Akan Bisa Dipadamkan Secepatnya

Kompas.com - 19/01/2009, 03:58 WIB

Laporan Wartawan Laksono Hari Wiwoho

JAKARTA, SENIN — Sampai sekitar pukul 04.00, api yang berkobar di Depo Pertamina Plumpang, masih terus berkobar dan tidak akan bisa dipadamkan dalam waktu cepat. Hal ini disebabkan keterbatasan volume premium yang terbakar terlalu besar. Demikian disampaikan
Kasi Ops Pemadam Kebakaran Jakarta Utara Aditia Jaya, Senin (19/1) dinihari.

Menurutnya, untuk memadamkan premium diperlukan komposisi 10 banding 1 (10 liter premium banding 1 liter air sebagai bahan baku penghasil busa pemadam) sehingga untuk memadamkan 5 juta liter volume tangki dibutuhkan 500.000 liter air sebagai bahan baku busa pemadam. "Kita tidak bisa memberikan busa karena air yang digunakan harus air bersih (PDAM), kalau ini kan pakai air kali, jadi sudah kotor," ujarnya.

Selain itu, busa juga harus ditembakkan ke titik api dengan jarak paling tidak 25 meter, sementara kebakaran hanya bisa dijangkau sekitar 100 meter karena panasnya hawa yang dihasilkan api. "Karena itu pemadaman dengan busa hanya bisa dilakukan melalui udara (helikopter)," ujarnya.

Aditia juga tidak bisa memperkirakan kapan api ini bisa berhenti jika didiamkan terus-menerus. Saat ini petugas masih menyemprotkan air ke rumah penduduk dan tangki-tangki di sekitar depo yang terbakar sebagai upaya pendinginan untuk mencegah menjalarnya kebakaran.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau