Ancaman Rabies di Bali Meningkat

Kompas.com - 19/01/2009, 07:38 WIB
DENPASAR, KOMPAS — Pelaporan kasus gigitan hewan penular rabies, seperti anjing dan kera, di Bali meningkat sejak awal Januari ini. Padahal, awal Desember 2008 pemerintah secara besar-besaran melakukan vaksinasi setelah Bali dinyatakan kondisi luar biasa rabies.

Sepanjang Minggu (18/1), Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Bali, selaku salah satu dari tujuh pusat krisis rabies di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar menerima 15 pasien yang mengaku digigit anjing atau kera. Mereka langsung mendapatkan vaksinasi antirabies.

Umumnya pasien datang dari sejumlah kawasan di Kabupaten Badung, terutama Kecamatan Kuta Selatan dan Kuta, serta Kota Denpasar. Di kedua kabupaten/kota ini, rabies sudah positif berjangkit. Namun, satu pasien berasal dari Gianyar, yang sebenarnya masih dinyatakan bebas dari penyakit rabies.

Kepala Seksi Pelayanan Medis dan Rawat Jalan RSUP Sanglah dr Ken Wirasandhi mengungkapkan, sepanjang Desember lalu tercatat 15 pasien dengan kasus gigitan hewan penular rabies berasal dari Sanglah. Pada Januari 2009 tercatat kasus rabies meningkat dengan rata-rata 10 kasus gigitan per hari, belum ditambah di puskesmas lain yang ditunjuk sebagai crisis center serta RS Wongaya, Denpasar. ”Mungkin saja bulan-bulan lalu sudah banyak kasus gigitan hewan penular rabies, tetapi tidak dilaporkan,” kata Ken.

Dia menyatakan, semua pasien langsung mendapatkan tindakan medis sesuai kasus yang dialami. Terkait riwayat gigitan pasien, Ken menyatakan langsung berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Kelautan serta Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Sesuai prosedur, Dinas Peternakan dan Kelautan akan bertanggung jawab untuk mengawasi, menangkap, serta meneliti hewan penular rabies penggigit para pasien.

Vaksinasi diperluas

Di tempat terpisah, praktisi hewan kecil yang juga mantan penyidik di Balai Penyidikan Penyakit Hewan Wilayah VI Denpasar, drh Soeharsono PhD, menyatakan, peningkatan jumlah pasien dengan kasus gigitan hewan penular rabies, apalagi ada yang dari luar daerah terinfeksi, jelas merupakan ancaman. Ia mendesak Pemerintah Provinsi Bali segera menggelar vaksinasi hingga daerah terancam, yakni kabupaten lain di luar Badung dan Denpasar.

Terkait meninggalnya seorang warga pada Kamis lalu di RSUP Sanglah, Ken mengatakan, pasien meninggal itu menunjukkan gejala klinis dan epidemiologis rabies. Gejala itu antara lain mengeluarkan air liur pada saat meninggal dan mempunyai riwayat gigitan anjing di Desa Ungasan, Kuta Selatan, sekitar enam bulan lalu. Bahkan, anjing penggigit pasien itu diketahui positif rabies.

Menurut dia, spesimen pasien tersebut telah dikirim ke Balivet Bogor untuk mendapat kepastian akhir penyebab meninggalnya pasien. Pemprov Bali pun akan meneliti strain virus rabies di Bali itu. (BEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau