Terapi Sel Punca Atasi Stroke dan Kebutaan

Kompas.com - 21/01/2009, 09:28 WIB

RABU, LONDON - Dua uji klinik sel punca secara terpisah akan dilakukan di Inggris untuk terapi bagi penderita stroke dan kebutaan. Sel punca itu diambil dari janin manusia yang gagal lahir atau digugurkan dan akan diinjeksikan ke otak pasien.

Uji coba yang akan dilakukan di Glasgow Juni nanti itu masih menunggu persetujuan komite etik. Namun, hal ini menuai kontroversi dan digambarkan kelompok penentang aborsi sebagai ”proposal yang sakit”.

Secara terpisah, uji coba selama dua tahun yang melibatkan 20 pasien dengan kebutaan pada kornea akan dimulai bulan ini di Princess Alexandra Eye Pavilion di Edinburgh dan the Gartnavel General Hospital di Glasgow. Bila sukses, terapi dengan sel punca dari donor dewasa yang meninggal ini bisa membantu jutaan penderita kebutaan di dunia, sekitar 80 persen dari mereka berusia lanjut. Riset ini relatif tidak kontroversial daripada terapi sel punca dari embrio manusia.

Dalam terapi itu, sel punca dewasa diambil lalu dicangkokkan ke kornea. ”Saat ini tiap bulan saya menemukan dua atau tiga kasus baru gangguan kornea,” kata Prof Bal Dhillon yang memimpin uji coba itu kepada kantor berita AFP, Senin (19/1) di London, Inggris.

Stroke

Sel punca diharapkan meregenerasi wilayah otak yang rusak karena stroke, meningkatkan kemampuan gerak serta mental pasien. Uji coba yang dimulai pertengahan tahun ini akan melibatkan empat kelompok yang masing-masing terdiri atas tiga pasien selama dua tahun untuk menguji keamanan dan manfaatnya.

Namun, pemakaian janin yang digugurkan untuk menciptakan sel punca ini ditentang banyak pihak. Menurut juru bicara Perhimpunan Antiaborsi, terapi sel punca dengan embrio manusia adalah kanibalisme anak yang gagal lahir karena aborsi. Dengan cara apa pun, hal itu tidak etis karena membunuh manusia untuk membantu yang lain.

Menanggapi hal itu, Dr John Sinden dari Divisi Iptek Reneuron, perusahaan yang mengembangkan sel-sel, menyatakan, pihaknya hanya mengambil satu donasi jaringan untuk membuat produk itu. ”Kami punya teknologi yang bisa memperbanyak produksi sel individual jadi berbagai sel untuk terapi dengan jaringan janin,” ujarnya.

Dalam studi itu, kelompok pertama akan menerima dosis rendah dari dua juta sel punca janin. Dosis ini bertahap ditingkatkan. Kelompok terakhir akan menerima 20 juta sel punca yang dianggap cukup untuk meregenerasi daerah otak yang rusak.

Keith Muir, konsultan yang memimpin uji coba itu di Southern General Hospital di Glasgow, menyatakan, terapi ini bisa membentuk sel saraf baru untuk regenerasi sel-sel dan memulihkan fungsi saraf pasien.

Selama ini terapi stroke berfungsi memulihkan daerah otak yang rusak tetapi tidak meregenerasi sel-selnya. ”Fisioterapi bisa mereorganisasi fungsi otak, tetapi tak bisa membuat sel-sel baru,” ujarnya. (BBC/EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau