Penurunan Tarif Disinsentif Belum Bisa Pulihkan Industri Tekstil

Kompas.com - 21/01/2009, 18:47 WIB

BANDUNG, RABU — Penurunan tarif listrik disinsentif untuk kalangan industri dinilai kalangan industri tidak akan banyak membantu menurunkan biaya produksi, apalagi untuk memulihkan sektor tekstil Jawa Barat yang sedang terpuruk akibat krisis ekonomi global.

"Kalau untuk memulihkan kondisi industri tekstil, penurunan tarif listrik ini masih jauh untuk dapat mengamankan industri tekstil kita. Masalah yang dihadapi tekstil sekarang ini adalah marketnya tidak ada," kata Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat Ade Sudradjat, Rabu (21/1) di Bandung.

Industri yang biaya produksinya cukup besar dipengaruhi oleh biaya listrik adalah industri tekstil. Setelah biaya bahan baku, bagi industri tekstil, biaya dari listrik dan tenaga kerja memberikan kontribusi biaya yang cukup besar terhadap total biaya produksi.

Ade Sudradjat meragukan penurunan tersebut akan mencapai 8 persen hingga 15 persen. Penurunan yang dirasakan oleh industri tekstil diperkirakan tidak akan sebesar seperti yang diumumkan.

"Yang akan terjadi menurut saya tidak akan lebih dari 8 persen, efektifnya paling hanya 3 sampai 4 persen, walaupun pemerintah mengatakan penurunan 8 sampai 15 persen," kata Ade.

Porsi terbesar biaya produksi tekstil adalah dari biaya bahan baku. Ade mengatakan, komponen biaya listrik terhadap seluruh biaya produksi bagi kalangan pelaku industri tekstil cukup besar. Terutama bagi industri tekstil yang berada di sektor industri hulu seperti dalam pengolahan benang. Untuk kalangan industri tekstil yang berada di bagian industri hulunya, komponen biaya listrik bisa sampai 27 persen.

Adapun untuk tekstil yang berada di bagian industri menengahnya, komponen biaya produksi dari biaya listrik porsinya sebesar 17 persen, sedangkan untuk industri hilirnya, seperti di garmen, porsi biaya listrik menambah beban biaya produksi sekitar satu persen.

Pada saat industri tekstil kita sedang kehilangan pasar di luar negeri, pasar di dalam negeri justru kurang terproteksi. Upaya melindungi kepentingan industri dalam negeri sekarang ini adalah dengan upaya mengamankan pasar dalam negeri.

Ade mengatakan, sejauh ini, kalangan pelaku industri dalam negeri berusaha sekuat tenaga untuk bisa tetap survive berusaha. Stimulus yang dijanjikan pemerintah masih belum berdampak. "Apa yang ada di tangan kita sudah coba, dari mulai pergeseran jam kerja, misalnya dari yang biasa kerja 25 hari per bulan kemudian diturunkan hingga 20-15 hari per bulan," katanya.

Sementara itu, penurunan tarif listrik bagi kalangan industri yang dilakukan PLN, dinilai Ketua Kadin Jabar Agus S Sutisno, sedikit banyak akan membantu pengusaha dalam menekan biaya produksi. "Kita sebagai kalangan dunia usaha menyambut baik penurunan tarif listrik bagi industri karena beban biaya produksi jadi menurun," kata Agung.

Agung menyebutkan, kalangan pelaku usaha yang sangat terpengaruh dengan komponen biaya listrik terbesar di antaranya adalah kalangan pelaku usaha di industri tekstil, kemasan makanan, dan industri manufaktur. Dengan penurunan tarif listrik tersebut, menurutnya, hal itu akan mendorong peningkatan, baik daya beli industri, maupun masyarakat konsumen dalam negeri. Ia mengharapkan, penurunan tarif listrik tersebut dapat menekan pengaruh krisis global yang dialami sektor industri tekstil. "Mudah-mudahan dapat membantu menekan dampak krisis," katanya.

"Begitu pula bagi sektor industri lainnya, seperti industri properti. Dengan adanya penurunan tarif listrik bagi industri tersebut, minimal ongkos produksi juga menurun," kata Agung.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau