Sutiyoso dan Sultan Masih Malu-Malu Terima Pinangan PDI-P

Kompas.com - 21/01/2009, 21:28 WIB

JAKARTA, RABU — Calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, Rabu (21/1), mengundang dua kandidat calon presiden lain. Keduanya adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X yang diusung Partai Republika Nusantara, dan Sutiyoso yang diusung Partai Indonesia Sejahtera untuk bertemu secara terpisah di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar 27A, Jakarta Pusat.

Walau sama-sama telah ditetapkan oleh PDI-P sebagai dua dari lima calon wakil presiden yang bakal dipasangkan dengan Megawati dalam pemilihan umum presiden mendatang, keduanya tampak masih belum secara terang-terangan berani menyatakan menerima atau menolak pinangan itu.

Seusai pertemuan yang digelar dalam dua kesempatan terpisah, baik Sultan maupun Sutiyoso, kepada wartawan menyatakan sampai sekarang mereka masih berstatus tetap mendeklarasikan diri untuk maju sebagai calon RI-1 dalam bursa pilpres mendatang.

”Deklarasi saya kan sampai sekarang masih untuk maju sebagai capres. Lagipula tadi (dalam pertemuan) tidak bicara soal itu, kok. Saya cuma diundang hadir dalam Rakernas PDI-P. Kalau diundang ya, saya akan datang. Tadi itu cuma mengobrol sambil sarapan pagi,” ujar Sultan.

Selain diundang Megawati, Sultan dalam pertemuan itu juga mengaku balik mengundang Megawati untuk mampir ke Keraton Yogyakarta sehari sebelum Rakernas PDI-P digelar untuk hadir dalam event budaya yang digelar di sana. Secara kebetulan, tambah Sultan, Megawati memang juga akan berkunjung ke Imogiri di Yogyakarta.

Hubungan baik

Penyikapan hampir sama juga ditunjukkan Sutiyoso, yang diterima Megawati beberapa saat setelah Sultan pulang. Pertemuan antara Megawati dan Sutiyoso berlangsung selama sekitar satu jam. Sejumlah petinggi PDI-P yang juga tampak hadir di kediaman Megawati seperti Pramono Anung, Tjahjo Kumolo, dan tentunya Taufik Kiemas.

”Saya kemari karena akan diundang Bu Megawati untuk hadir di Rakernas PDI-P di Solo nanti. Selama ini kan antara saya dan Bu Megawati sudah ada hubungan emosional yang baik. Saya pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta saat beliau masih Presiden. Ketika ketemu tadi tidak ada tawaran untuk itu (dijadikan cawapres). Sampai sekarang saya masih belum berpikir ke sana,” ujar Sutiyoso.

Menurut Sutiyoso, dirinya tidak mau berandai-andai dan hanya akan menunggu kepastian soal peta kekuatan perolehan suara setiap partai politik pascapemilu legislatif. Hal serupa menurutnya juga akan dilakukan PDI-P dan parpol lain serta para calon presiden lainnya.

”Hubungan saya dengan Bu Megawati kan sampai sekarang berjalan baik. Namun, secara politik, sampai saat ini saya masih menyatakan siap untuk bersaing dengan beliau di pemilihan presiden nanti. Tapi nanti akan kita lihat juga perkembangannya, saya kira semua juga akan bersikap begitu,” ujar Sutiyoso.

Sutiyoso lebih lanjut menolak menjawab soal kemungkinan dirinya memutuskan tidak lagi maju sebagai calon presiden jika hasil Rakernas PDI-P memutuskan akan memasangkan dirinya mendampingi Megawati sebagai calon wakil presiden PDI-P. Dia menegaskan enggan berandai-andai. Sikap serupa juga ditunjukkan Sultan sebelumnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau