Lewat Terowongan untuk Membeli Cokelat

Kompas.com - 22/01/2009, 04:42 WIB

Oleh Trias Kuncahyono dan Mustafa Abd Rahman

Dari atap rumah, yang kira-kira hanya berjarak 300 meter dari tembok pemisah Mesir-Jalur Gaza, kami bisa melihat dengan leluasa wilayah Rafah, Jalur Gaza. Dari sana pula kami melihat dua pesawat tempur Israel melayang-layang di udara, lalu mengeluarkan kembang api dan kemudian mengebom bagian tengah Jalur Gaza. Kami hanya melihat kepulan asap tipis di kejauhan. Entah kota mana yang menjadi korban Israel saat itu.

Kami pun mulai akrab dengan Walid dan terlibat pembicaraan seru. Ketika kami tanya soal terowongan, ia lalu cerita panjang lebar dengan begitu lancar.

”Anda lihat itu sebuah rumah bercat putih di sisi Palestina,” katanya sambil menunjuk pada sebuah rumah. ”Di dalam rumah itu ada terowongan. Empat bulan lalu, saya masuk ke Palestina lewat terowongan bawah tanah itu,” tutur Walid yang mengaku masih duduk di kelas II SMP.

Sebenarnya ia takut melintasi terowongan yang panjang dan gelap itu, takut runtuh, takut ketahuan aparat, tetapi tetap nekat dilakukan. Ia harus merangkak sepanjang terowongan. ”Saya takut mengulangi lagi masuk terowongan. Takut ambruk,” katanya sambil menceritakan bagaimana ia mulai masuk terowongan, turun ke kedalaman 15 meter dengan hati-hati menggunakan tali untuk meluncur ke bawah.

”Kalau yang berani, biasanya meluncur dengan cepat. Ada pula yang menggunakan tangga untuk turun ke dasar terowongan. Lebar mulut terowongan hanya kira-kira dua meter atau malah kurang. Setelah sampai di dasar, mulailah merangkak menuju ke wilayah Palestina. Ini saat menakutkan. Sekali lagi, saya tidak akan mengulangi lagi, apalagi sekarang ini saat sulit. Karena banyak tentara di sepanjang perbatasan,” katanya.

Ia nekat masuk ke Jalur Gaza lewat terowongan bawah tanah karena ingin membeli cokelat, biskuit, dan kue-kue yang tidak ada di Mesir. ”Cokelat dan kue-kue di Jalur Gaza lezat dan enak sekali, jauh lebih enak dibandingkan dengan kue-kue yang ada di Mesir. Saya saat itu beli kue dan cokelat di Jalur Gaza seharga 7 dollar AS (sekitar Rp 77.000),” lanjut Walid.

Sebaliknya, menurut penuturan Walid, warga Palestina juga menggunakan terowongan bawah tanah itu untuk membeli rokok, susu, bahan makanan, dan bahan bakar yang harganya di Rafah, Mesir, jauh lebih murah dibandingkan dengan di Jalur Gaza.

Sama seperti penuturan Ismail, ia membantah jika terowongan itu digunakan untuk menyelundupkan senjata dari Mesir ke Jalur Gaza. ”Di kalangan penduduk di sini, terowongan itu hanya digunakan untuk menyelundupkan bahan makanan dan bahan bakar dari Mesir ke Jalur Gaza. Namun, isu penyelundupan senjata tidak ada di sini,” papar Walid.

Menurut dia, dahulu siapa saja bisa masuk Jalur Gaza melalui terowongan dengan membayar 100 dollar AS (sekitar Rp 1,1 juta) kepada pemilik atau pembuat terowongan itu.

”Tapi mereka yang mau melintas menuju Jalur Gaza atau sebaliknya harus kenal dengan pemilik terowongan atau ada mediator dipercaya yang memperkenalkan pemilik terowongan itu dengan pengguna terowongan tersebut. Jadi, sebenarnya tidak mudah juga menggunakan terowongan bawah tanah,” tutur Walid.

Ia menjelaskan, pemilik terowongan itu harus hati-hati karena di sini banyak mata-mata Israel. ”Penduduk di perbatasan Jalur Gaza, Mesir, itu sudah tahu semua bahwa ada mata-mata Israel di sini. Israel membayar 1.000 dollar AS (sekitar Rp 11 juta) kepada mata-matanya setiap ada informasi penting dan bermanfaat untuk Israel,” ungkap Walid sambil menambahkan bahwa cerita itu beredar di masyarakat.

Terlalu berbahaya

Meski sudah tahu banyak terowongan bawah tanah, Walid menolak mengantar kami ke salah satu terowongan bawah tanah itu. ”Sekarang pasukan dan aparat keamanan Mesir menjaga ketat wilayah perbatasan. Siapa pun dicegah masuk ke wilayah perbatasan ini. Kalau empat bulan lalu, saya bisa mengantar Anda ke berbagai terowongan bawah tanah di sini,” lanjut Walid.

Menurut penuturan Walid, aparat keamanan Mesir sejak tiga bulan lalu menghancurkan banyak terowongan bawah tanah. Akan tetapi, tentu masih banyak pula terowongan bawah tanah yang belum ditemukan aparat Mesir.

Walid menambahkan, aparat keamanan Mesir itu sebenarnya sudah tahu sejak dulu tentang terowongan bawah tanah, tetapi mereka diam saja.

”Banyak pengguna terowongan dari warga Palestina atau Mesir yang menyogok aparat keamanan Mesir sehingga aparat keamanan itu diam. Terowongan itu sudah ada sejak lama dan antara penduduk dan aparat keamanan di sini sudah saling paham. Anda bisa mengerti kan,” kata Walid sambil tertawa.

Kami pun tertawa walau tidak dapat menemukan satu pun terowongan. Namun, kami masih berharap bertemu lagi dengan Ismail, seorang guru sekolah dasar yang berjanji mengajak kami ke terowongan bawah tanah.

Ketika petang harinya kami ketemu lagi dengan Ismail, sambil meminta maaf dia mengatakan masih belum berani mengajak kami ke terowongan yang diceritakan.

”Jangan ke sana, terlalu berbahaya,” kata Hasan, saudara Ismail, yang petang itu ada di antara kami.

Pupus sudah harapan kami. Barangkali lain waktu masih mendapat kesempatan. Itulah harapan kami untuk menghibur diri, setelah beberapa hari mencari terowongan bawah tanah, tetapi tidak berhasil menemukannya. (Trias Kuncahyono/ Mustafa Abd Rahman, dari Rafah, Mesir)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau