Oleh Trias Kuncahyono dan Mustafa Abd Rahman
RAFAH, RABU - Setelah selama 22 hari dibombardir tanpa henti oleh pasukan Israel, kini rakyat di Jalur Gaza bisa sedikit bernapas lega. Militer Israel mengaku penarikan pasukan dari Gaza telah berakhir.
”Pada pagi hari ini tentara yang terakhir dari pasukan Israel telah meninggalkan Jalur Gaza. Meski demikian, seluruh pasukan masih bertahan di sekeliling Gaza untuk menanggapi dan mengantisipasi apabila kembali terjadi serangan lanjutan,” kata juru bicara militer Israel, Rabu (21/1).
Proses penarikan seluruh tentara Israel itu telah dimulai hari Minggu atau setelah Israel secara sepihak mengumumkan gencatan senjata dan diikuti kelompok pejuang Palestina. Kelompok pejuang Hamas memberikan waktu hingga satu pekan kepada Israel untuk menarik seluruh pasukan dan membuka semua pintu perbatasan dan penyeberangan masuk ke wilayah Gaza.
Seiring dengan penarikan tentara itu, armada kapal perang Israel masih mengeluarkan tembakan sporadis di perairan Gaza di pagi hari. Juru bicara pejuang Hamas, Fawzi Barhum, menyebutkan, penarikan seluruh pasukan itu tak cukup dan tidak menyelesaikan masalah di Gaza. ”Kami menuntut semua blokade dibuka penuh. Begitu pula dengan perbatasan supaya rakyat kami dapat hidup aman dan damai,” ujarnya.
Hamas juga meminta pegawai pemerintah kembali bekerja normal meski gedung kantor-kantor pemerintahan di Gaza City tinggal puing setelah diserang Israel sejak 27 Desember. Akibat agresi Israel dari darat, udara, dan laut, sekitar 1.300 orang tewas dan 5.300 orang terluka. Menurut biro statistik Gaza, sekitar 4.100 rumah hancur dan 17.000 rusak.
Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menegaskan, Israel hanya bersedia membantu rekonstruksi Gaza jika upaya itu dipimpin oleh organisasi-organisasi internasional, Mesir, ataupun Otoritas Palestina di Tepi Barat. ”Seharusnya Hamas yang bertanggung jawab atas kerusakan di Gaza dan warga sipil yang jadi korban,” ujarnya.
Ganti rugi
Sementara dari Rafah dilaporkan, sejumlah salon potong rambut di kota Rafah, Mesir, mengajukan gugatan ganti rugi kepada Pemerintah Israel melalui aparat polisi Mesir. Beberapa bangunan salon tadi retak dan beberapa petugas salon terluka akibat serpihan rudal dari pesawat tempur Israel. Beberapa penduduk di Rafah juga menggugat ganti rugi kepada Pemerintah Israel akibat kerusakan beberapa bagian rumah, seperti atap rumah rontok, kaca pecah, dan dinding yang retak.
Aparat keamanan Mesir telah menemukan sedikitnya enam rudal Israel yang tidak meledak di berbagai tempat di Rafah, Mesir.
Pemerintah Hamas pimpinan Ismail Haniya meminta seluruh pegawai pemerintah masuk agar bisa memulai program pembangunan kembali Gaza dan memulai lagi kehidupan normal bagi seluruh penduduk. Hamas mengimbau penduduk agar menghindari tempat-tempat berbahaya yang diduga ditanami ranjau oleh Israel atau masih menyisakan sisa rudal atau bahan-bahan peledak yang belum meledak.
Regu penyelamat dari tim dokter dan relawan yang datang dari berbagai negara terus bekerja keras memberi perawatan kepada para korban terluka di rumah sakit Gaza, terutama rumah sakit utama Sifa, Gaza City. Sementara relawan membersihkan reruntuhan bangunan yang hancur.
Sementara itu negara-negara di dunia Arab dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi ekonomi Arab yang digelar di Kuwait gagal menyepakati suatu mekanisme dan menentukan pihak yang menangani proyek-proyek pembangunan kembali seluruh wilayah Gaza yang hancur. Sebagian negara Arab menolak apabila Pemerintah Hamas yang akan menangani proyek pembangunan kembali Gaza.
Alasannya, pemberian proyek itu kepada Hamas justru semakin memberikan legitimasi kepada Hamas. Adapun sebagian negara Arab lainnya mendukung Hamas sebagai pemimpin proyek pembangunan kembali Gaza. Alasannya, Hamas secara de facto adalah pihak yang berkuasa di Gaza. KTT ekonomi Arab itu akhirnya tidak mengeluarkan rekomendasi mengenai pemimpin dan yang menangani proyek pembangunan kembali Gaza.(REUTERS/AFP/AP/LUK)