Pendamping Mega Harus Bisa Dongkrak Suara

Kompas.com - 22/01/2009, 15:06 WIB

JAKARTA, KAMIS — Siapa yang akan dipilih Mega sebagai pasangannya pada pemilihan presiden Juli mendatang? Pertanyaan ini belum bisa ditemukan jawabannya. Sekjen PDI-P Pramono Anung mengatakan, partainya akan merangkul partai yang belum memiliki calon presiden. Sejumlah nama seperti Sri Sultan HB X, Prabowo Subianto, dan Hidayat Nur Wahid disebut-sebut sebagai kandidat kuat yang akan dipinang mantan presiden itu. Siapa yang paling cocok dengan Mega?

Pengamat politik yang juga Direktur Reform Institute, Yudi Latif, mengatakan, calon pendamping Mega harus bisa saling melengkapi. Dalam hal pemenangan kontestasi pemilu, sang calon pendamping haruslah figur yang mampu menutup 'bolong' perolehan suara PDI-P di suatu wilayah.

"Pilihan cawapres harus mempertimbangkan pemenangan pemilu. Peta pendukungnya jangan overlapping dengan Ibu Mega. Masa pemilihan kan masih lama, peta pergeseran juga masih sangat mungkin berubah. Siapa yang paling kuat, kalau lihat jajak pendapat kan ada Sultan, Hidayat Nur Wahid, dan Prabowo. Yang penting, pendampingnya punya kemampuan untuk menutupi dan melengkapi posisi Mega dalam meraih suara," kata Yudi, dalam jumpa pers di Megawati Institute, Jakarta, Kamis (22/1).

Yudi merinci, Sri Sultan mempunyai basis dukungan di Pulau Jawa, Hidayat Nur Wahid luar Jawa, sementara Prabowo sama dengan Sultan, dipandang memiliki basis dukungan di Pulau Jawa.

Saat ditanya, apakah ada indikasi Sultan menjadi calon kuat yang akan dipilih, Yudi tak memberikan jawaban pasti. Ia hanya mengatakan, pernyataan Sultan yang menyatakan ingin memperkuat dukungan di luar Jawa harus jadi pertimbangan. "Kalau Sultan yang jadi pilihan, beri waktu untuk membesarkan dirinya. Sultan pernah mengatakan, bahwa untuk luar Jawa dia masih harus berjuang," ujarnya.

Posisi PDI-P, menurut Yudi, juga belum aman untuk meraih suara 25 persen pada pemilu legislatif. Sebaiknya, ia menilai penentuan cawapres dilakukan pascapemilu legislatif. "PDI-P pasti perlu koalisi dengan partai lain. Cawapres sebaiknya setelah pemilu legislatif, jadi bisa menentukan apakah bisa melenggang sendiri atau tidak. Kalau aman ticketing-nya, baru bisa menentukan melangkah dengan siapa," kata Yudi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau