Gaza City Mulai Berbenah

Kompas.com - 23/01/2009, 03:38 WIB
 

Oleh Trias Kuncahyono dan Mustafa Abdul Rahman

GAZA CITY, KAMIS - Kehidupan di Gaza City, ibu kota Jalur Gaza, sudah normal kembali, Kamis (22/1). Pertokoan di jalan utama Gaza City, yakni Jalan Omar Muhtar, mulai dibuka kembali dan dipenuhi konsumen. Begitu juga dengan warung makan dan kedai minum yang sudah dipadati pembeli.

Petugas kebersihan kota sibuk membersihkan puing-puing atau reruntuhan gedung kantor polisi yang hancur akibat dibombardir pesawat tempur Israel. Para petugas polisi lalu lintas sibuk mengatur lalu lintas pusat kota yang mulai ramai. ”Jalanan sudah mulai ramai kembali,” kata polisi yang tengah berdiri mengatur lalu lintas di perempatan dekat gedung kantor polisi yang runtuh dibom Israel.

Kantor polisi itu dibombardir Israel pada 27 Desember atau hari pertama serangan Israel ke Gaza. Akibat serangan itu, 13 polisi tewas dan 13 orang terluka. Tidak jauh dari kantor polisi yang hancur itu—sekitar 400 meter— tampak Gedung Parlemen Palestina (Majelis Tasyrie) yang juga hancur akibat dibombardir pesawat-pesawat tempur Israel.

Selama 23 hari agresi Israel ke Gaza, pesawat-pesawat tempur Israel mengarahkan sasaran pada gedung pemerintahan Hamas di seantero Jalur Gaza. Meski kehidupan mulai normal, suasana tenang kembali diganggu oleh tembakan meriam Israel di Laut Mediterania, lepas pantai Gaza. Tembakan meriam itu diarahkan ke kapal-kapal nelayan yang ada di kawasan Sudania, sekitar 2 kilometer sebelah barat laut Gaza City. Kapal perang jenis fregat Israel mencoba mencegat kapal- kapal nelayan Palestina berada di perairan lepas pantai Gaza.

”Itu suara tembakan meriam dan senapan mesin fregat Israel untuk mengusir nelayan Palestina. Posisinya sangat dekat dengan tempat kita ini,” ujar Ayman, petugas Hotel Zahrat al Sharq, tempat wartawan menginap.

Suara tembakan meriam yang sangat jelas terdengar dari Gaza City mulai terdengar sejak pukul 06.00 waktu setempat atau pukul 11.00 WIB hingga pukul 08.00. Anak-anak yang berada di jalanan dekat hotel berteriak saat mendengar suara tembakan itu.

Mulai ramai

Jalanan Gaza City tidak hanya ramai, tetapi juga macet, seperti terlihat di sekitar Rumah Sakit Sifa. Polisi berseragam biru sibuk mengatur arus lalu lintas. Suara klakson pun terdengar bersahutan dari mobil yang minta jalan.

Sejumlah warung internet di Jalan Omar Muhtar dan dekat Rumah Sakit Sifa juga mulai ramai. Anak-anak muda sibuk bermain game, seakan lupa perang yang baru saja berlalu. ”Sekarang saya senang bisa main game lagi. Saya juga senang perang sudah berakhir. Saya sudah terbiasa dengan perang karena itu saya tidak takut,” kata Abdurrahman (14), siswa kelas II SMP di Gaza City, sambil bermain game perang.

Ahmed Batta (19), polisi dari Hamas yang tengah berjaga-jaga di depan Gedung Pusat Kebudayaan Rashad Shawa, mengatakan, Gaza City kini kembali aman. ”Kami tidak gentar dengan peralatan militer canggih Israel. Meskipun Israel telah mengeluarkan semua mesin militer canggih, mereka tidak bisa dengan mudah menaklukkan kami,” ujar Batta sambil menjejakkan kaki ke tanah.

Sambil berpromosi, Batta menyatakan, dalam sejarah Gaza, tak ada yang paling aman seperti sekarang di era pemerintahan Hamas. Menurut dia, semua warga di Gaza kini berafiliasi atau setidaknya bersimpati kepada Hamas. ”Kini di Gaza tak ada Fatah dalam arti yang sebenarnya. Fatah kini hanya di wilayah Tepi Barat,” ungkapnya.

Ia menyatakan sangat bersimpati kepada rakyat Indonesia. ”Kami tahu rakyat Indonesia menggelar unjuk rasa dan demonstrasi besar-besaran untuk mendukung Hamas dan mengecam Israel,” kata Batta.

Ia melanjutkan, Hamas semakin populer pasca-agresi Israel. Menurut dia, Israel telah gagal melemahkan Hamas, baik melalui politik maupun aksi militer. ”Anda lihat sendiri, kan, Gaza City yang tetap saja ramai dan kehidupan sama sekali tak terpengaruh apa pun. Kami akui adanya kehancuran di mana-mana, tetapi kami tetap dapat bekerja seperti biasa,” kata Batta.

Meninjau situasi di Gaza pasca-agresi Israel, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon tidak mampu berkata-kata. Serangan Israel itu dianggap ”keterlaluan”. Pada saat meninjau sekolah-sekolah yang dikelola PBB yang diserang Israel, Ban kembali terdiam. Ban hanya menyatakan, suasana yang ia lihat sangat menyedihkan dan menyakitkan hati. Akibat agresi Israel, lebih dari 1.330 orang tewas dan 5.300 orang terluka.

Terowongan

Seiring dengan denyut nadi kehidupan yang kembali normal, terowongan-terowongan bawah tanah pun ikut dibenahi. Ratusan warga Palestina datang ke daerah perbatasan Gaza dan Mesir untuk memperbaiki terowongan yang dibombardir Israel. Penduduk di perbatasan yang mengelola terowongan itu mengaku, distribusi bahan-bahan kebutuhan, seperti bahan bakar, mulai bergerak melalui puluhan terowongan yang masih ada.

Salah satu pemilik terowongan, Mohammed, mengaku, ia dan tiga rekannya telah mengeluarkan 40.000 dollar AS untuk membangun lagi terowongannya dan jalur distribusi. ”Saya tak akan membawa masuk senjata atau narkoba. Saya ingin membawa barang yang dibutuhkan masyarakat, seperti makanan dan bahan bakar,” katanya.

Di selatan kota Rafah, ratusan warga Palestina kembali memperbaiki terowongan mereka. Kegiatan itu dilakukan di bawah tenda. ”Mau tak mau kami harus hidup. Kami masih muda dan tak mempunyai pekerjaan lain selain membuka bisnis terowongan ini. Kalau Israel membuka semua pintu penyeberangan, kami juga tak akan bisnis terowongan,” kata pemilik terowongan.

Menanggapi hal itu, Israel mengancam akan melancarkan serangan kembali untuk menghancurkan terowongan tersebut. ”Jika kami harus menyerang kembali untuk menghentikan penyelundupan, kami akan lakukan. Israel punya hak menghentikan penyelundupan selamanya,” kata Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni kepada stasiun radio Israel.(REUTERS/AFP/AP/LUK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau