Gejolak saham tergantung pada pergerakan perdagangan, yang dipengaruhi faktor psikologi bursa, yang hari Selasa lalu dikacaukan berita potensi kerugian RBS (bank asal Inggris).
Ya, seharusnya euforia Presiden Obama bisa mendongkrak saham. Namun, jangan lupa, sedahsyat apa pun euforia yang dibawa Obama, yang membakar histeria warga dunia itu, fondasi ekonomi yang dia warisi dari mantan Presiden George W Bush sudah keropos.
Disintermediasi
Presiden Obama sadar akan hal itu. Lembaga perbankan dunia kini enggan mengucurkan kredit karena takut terjebak kemacetan lagi. Perbankan menghindari, bahkan mencurigai sesama lembaga keuangan, bahkan perusahaan, kalau-kalau mereka masih belum steril dari virus resesi ekonomi global.
Dalam keadaan seperti itu, sebanyak apa pun kucuran, suntikan dana, ibarat darah di urat nadi yang tersumbat, kredit tak akan lancar. Pemburukan ekonomi sedang terjadi.
Lagi, di bursa masih banyak potensi penipuan ala Enron, Lehman Brothers, dan Madoff, yang menjebak jutawan dunia. Bisakah Presiden Obama mengatasi itu? Regulasi, pengawasan, adalah prioritas pertama ekonomi Presiden Obama di samping stimulus ekonomi. Jawabnya, Obama memerlukan waktu untuk memulihkan ekonomi AS. (MON)