WASHINGTON, JUMAT — Menghadapi isu luar negeri paling mendesak, Presiden AS Barack Obama menunjuk dua utusan khusus, Kamis (22/1). Mantan Senator George Mitchell (75) ditunjuk sebagai Utusan Khusus Timur Tengah dan mantan Utusan AS untuk PBB Richard Holbrooke (67) ditunjuk sebagai Utusan Khusus Afganistan dan Pakistan.
Penunjukan kedua utusan khusus itu mengindikasikan bentuk keterlibatan baru Pemerintah AS dalam persoalan dunia. Hal itu juga menunjukkan keinginan Obama untuk memutus keterkaitan dengan pemerintahan sebelumnya.
Obama mengatakan, kedua utusan itu diharapkan bisa menyampaikan maksud serius pemerintahan Obama dalam menghadapi urgensi dan kompleksitas tantangan saat ini. ”Kita tidak bisa membuang-buang waktu,” katanya.
Mitchell dikenal karena berhasil membawa perdamaian di Irlandia Utara tahun 1998. Dia juga memiliki pengalaman di Timur Tengah saat ditunjuk Presiden Bill Clinton untuk menemukan cara mengakhiri kekerasan Israel-Palestina.
Bertolak dari pengalaman selama berhadapan dengan isu Irlandia Utara, Mitchell mengatakan, dia membangun keyakinan bahwa ”tidak ada konflik yang tidak bisa diselesaikan”. Mitchell telah diperintahkan untuk membantu menjamin kelangsungan gencatan senjata di Jalur Gaza.
Holbrooke dikenal karena berhasil memediasi perjanjian damai Dayton yang mengakhiri perang Bosnia. Saat diberi tugas menangani konflik di Afganistan yang meluber ke Pakistan, Holbrooke mengatakan, dia diberi tugas berat.
”Seperti kita ketahui, ini adalah tugas yang sulit,” katanya. Holbrooke mengakui bahwa Afganistan dan Pakistan adalah dua negara ”berbeda” yang dijalin dengan kesamaan sejarah dan etnisitas.
Obama telah memerintahkan tinjauan ulang penuh atas strategi AS di Afganistan. Dia juga telah berjanji untuk mengalihkan fokus perang melawan terorisme dari Irak ke Afganistan.
Era baru
Menteri Luar Negeri Hillary Clinton yang mendampingi Obama mengatakan, sudah saatnya AS memperbaiki citranya di mata dunia. ”Kita harus lebih cerdas tentang bagaimana menggunakan kekuatan kita,” ujarnya.
Hillary menyatakan ”era baru bagi Amerika” yang didasarkan pada diplomasi dan mengakhiri perpecahan di tubuh pemerintah yang melumpuhkan pengambilan keputusan AS di masa pemerintahan mantan Presiden George W Bush.
Namun, saat menyebut isu Timur Tengah, baik Obama maupun Hillary sama sekali tidak menyinggung soal Iran. (afp/reuters/bbc/fro)