Ada 54 Kasus Kusta di Serang

Kompas.com - 24/01/2009, 12:39 WIB

LEBAK, SABTU — Ditemukan 54 kasus penderita kusta di Kota Serang, Banten, awal 2009 ini sehingga Kota Serang belum dinyatakan bebas dari penyakit tersebut.
     
"Ke-54 penderita itu kini menjalani pengobatan serta pengawasan petugas tenaga medis," kata Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan, Kota Serang, dr Ella Meidelina, Jumat.

Ella mengatakan, saat ini penderita penyakit kusta di Kota Serang termasuk tinggi karena rata-rata 1 banding 100.000.

Kemungkinan jumlah penderita kusta akan bertambah jika tidak segera dilakukan pengobatan sebab penyakit kusta bisa menulari orang lain.

Oleh karena itu, petugas terus mengawasi dan melakukan pemantauan terhadap penderita yang ditemukan tersebut agar tidak menulari warga lain.

Selama ini, kata dia, penyakit kusta terbagi dua, yakni penyakit kusta kering (PB) dan kusta basah (MB).

Penyakit kusta kering akan sembuh dengan pengobatan multy drug therapy (MDT) selama enam bulan.

Adapun penyakit kusta basah membutuhkan waktu pengobatan MDT selama setahun.
"Selama masa pengobatan, mereka jangan berhenti meminum obat," katanya.

Ia menyebutkan, penyakit kusta basah bila tidak diobati dapat menular melalui pernapasan atau kontak kulit yang lama.

Akan tetapi, tidak semua orang dapat tertular penyakit kusta karena tergantung dari kekebalan masing-masing.

"Sebetulnya, penyakit kusta tidak menularkan dengan cepat atau hanya sekali bersentuhan saja," katanya.

Menurut dia, pengobatan kusta sebaiknya dilakukan secara dini, saat muncul tanda-tanda kelainan kulit jika bercak putih seperti panu atau bercak kemerahan.

"Penderita kusta hilang rasa dan tidak ditumbuhi bulu juga tak mengeluarkan keringat," katanya.

Dia menjelaskan, untuk mencegah penyakit kusta, selain sosialisasi juga memberikan pengobatan bagi penderita.

Sebabnya, penyakit kusta bukan penyakit turunan, kutukan, guna-guna, dan bisa diobati. Selain itu, penderita kusta jangan diisolasi atau dijauhi karena mereka bisa diobati di Puskesmas. "Saya kira dengan cara pengobatan itu, cacat kusta bisa dicegah," katanya.

Sementara itu, Saepudin (35), seorang penderita kusta, mengaku bahwa setiap pekan ia berobat ke Puskesmas, dan selama berobat, luka cacatnya tidak menjalar ke bagian tubuh lain.

"Saya sudah empat tahun menderita kusta. Namun, untungnya saya sering berobat sehingga tidak begitu parah," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau