LEBAK, SABTU — Ditemukan 54 kasus penderita kusta di Kota Serang, Banten, awal 2009 ini sehingga Kota Serang belum dinyatakan bebas dari penyakit tersebut.
"Ke-54 penderita itu kini menjalani pengobatan serta pengawasan petugas tenaga medis," kata Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan, Kota Serang, dr Ella Meidelina, Jumat.
Ella mengatakan, saat ini penderita penyakit kusta di Kota Serang termasuk tinggi karena rata-rata 1 banding 100.000.
Kemungkinan jumlah penderita kusta akan bertambah jika tidak segera dilakukan pengobatan sebab penyakit kusta bisa menulari orang lain.
Oleh karena itu, petugas terus mengawasi dan melakukan pemantauan terhadap penderita yang ditemukan tersebut agar tidak menulari warga lain.
Selama ini, kata dia, penyakit kusta terbagi dua, yakni penyakit kusta kering (PB) dan kusta basah (MB).
Penyakit kusta kering akan sembuh dengan pengobatan multy drug therapy (MDT) selama enam bulan.
Adapun penyakit kusta basah membutuhkan waktu pengobatan MDT selama setahun.
"Selama masa pengobatan, mereka jangan berhenti meminum obat," katanya.
Ia menyebutkan, penyakit kusta basah bila tidak diobati dapat menular melalui pernapasan atau kontak kulit yang lama.
Akan tetapi, tidak semua orang dapat tertular penyakit kusta karena tergantung dari kekebalan masing-masing.
"Sebetulnya, penyakit kusta tidak menularkan dengan cepat atau hanya sekali bersentuhan saja," katanya.
Menurut dia, pengobatan kusta sebaiknya dilakukan secara dini, saat muncul tanda-tanda kelainan kulit jika bercak putih seperti panu atau bercak kemerahan.
"Penderita kusta hilang rasa dan tidak ditumbuhi bulu juga tak mengeluarkan keringat," katanya.
Dia menjelaskan, untuk mencegah penyakit kusta, selain sosialisasi juga memberikan pengobatan bagi penderita.
Sebabnya, penyakit kusta bukan penyakit turunan, kutukan, guna-guna, dan bisa diobati. Selain itu, penderita kusta jangan diisolasi atau dijauhi karena mereka bisa diobati di Puskesmas. "Saya kira dengan cara pengobatan itu, cacat kusta bisa dicegah," katanya.
Sementara itu, Saepudin (35), seorang penderita kusta, mengaku bahwa setiap pekan ia berobat ke Puskesmas, dan selama berobat, luka cacatnya tidak menjalar ke bagian tubuh lain.
"Saya sudah empat tahun menderita kusta. Namun, untungnya saya sering berobat sehingga tidak begitu parah," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang