Malaysia Inginkan Dua Tahanan Guantanamo

Kompas.com - 24/01/2009, 14:46 WIB

KUALA LUMPUR, SABTU — Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi menginginkan dua warganya yang ditahan di penjara Teluk Guantanamo dikembalikan. Nantinya, kedua orang yang dituduh Negeri Uak Sam (US) sebagai anggota teroris itu bakal menghabiskan masa tahanan di Malaysia. "Kami ingin keduanya pulang," kata Badawi.

Presiden AS Barack Obama pada Selasa (20/1) sudah memerintahkan para jaksa militer di Guantanamo menghentikan kasus persidangan atas tersangka teroris, setidaknya selama 120 hari. Obama juga telah mengatakan agar penjara itu ditutup. Alasannya, Guantanamo malah mempermalukan AS soal hak asasi manusia (HAM).

Sementara itu, dua warga Malaysia yang dimaksud Badawi adalah Mohammed Nazir Lep dan Mohammad Farik Amin. Menurut AS, keduanya punya hubungan erat dengan jaringan Jemaah Islamiyah (JI) yang berada di belakang serangan Bom Bali 2001.

Nazir Lep yang punya nama samaran Lillie pernah mengatakan punya modal dari jaringan Al Qaeda untuk melakukan pengeboman di Hotel J.W. Marriott di Jakarta pada 2003. Insiden itu menewaskan 12 orang.

Adapun Farik Amin yang juga dikenal sebagai Zubair dinyatakan terbukti bersalah dan dijebloskan ke penjara karena dirinya adalah orang dekat perencana JI, Hambali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau