Kala Pawang Berkomunikasi dengan Alam

Kompas.com - 25/01/2009, 08:54 WIB

Susi Ivvaty & Budi Suwarna

Dua pawang hujan, Akie Setiawan (38) dan Taufik Hidayat (35), berdiri berbaris dengan wajah menengadah. Kaki diregangkan. Mulut komat-kamit menyeru doa. Kedua tangan mereka digerak-gerakkan seperti sedang menyibak awan. Dua menit berlalu, awan yang menutupi matahari pun menyingkir dan sinar matahari terasa menyengat di kuduk.

”Bisa dilihat sendiri, terbukti kan?” tanya Akie tersenyum. Ia tampaknya tidak butuh jawaban. Akie merasa perlu membuktikan kepiawaiannya menggeser awan demi meyakinkan lawan bicara bahwa kerja pawang hujan itu tidak main-main.

Akie dan Taufik adalah dua pawang hujan di Yayasan Nursyifa, Cikini, Jakarta Pusat, yang telah berpraktik sejak lima tahun lalu. Siang itu keduanya beraksi di atap gedung yayasan.

Selama ini Akie biasanya dibantu dua teman saat prosesi pengalihan hujan. Ia bertindak sebagai imam dan dua temannya sebagai makmum. Jika dilakukan bertiga, kerja terasa lebih enteng.

Prosesi yang dilakukan pawang hujan bisa berbeda-beda, begitu pula media perantara yang dibutuhkan. Jika Akie cukup dengan doa dan sejumlah gerakan, pawang lain warga Palmerah, Jakarta Pusat, sebut saja Titin, membutuhkan bokor berisi kemenyan, garam, lisong, kapur, pinang, dan sirih.

Titin biasanya meminta klien membuang nasi satu genggam ke atas genting dan membuang lisong, kemenyan, kembang, dan kapur ke sungai. Ia cukup mengawal di rumahnya sendiri. ”Elu tinggal minta agar hujan tidak turun satu hari, seminggu, terserah elu,” kata Titin yang mengaku mendapat ilmu menangkal hujan dan ilmu supranatural lainnya dari Banten.

Beda lagi dengan Wagiman Sidharta (56), pawang hujan warga Klender, Jakarta Timur. Ia mensyaratkan 3-5 kaleng bir sebagai mediator. ”Saya cukup duduk sambil berdoa. Bir itu tak ubahnya air putih buat saya,” kata pawang yang sudah puluhan kali ”menyelamatkan” lapangan sepak bola dari guyuran hujan, seperti pada ajang Piala Tiger, Piala Asia, dan sepak bola antarklub di Lebak Bulus.

Soal bir ini, ada satu cerita. Pernah dalam sebuah acara, panitia memberi bir yang belum dibayar kepada Wagiman. Akhirnya turun hujan. Lalu, sewaktu berlangsung pertandingan sepak bola antarmedia massa se-Jawa-Bali, seorang teman mendadak menenggak segelas bir di sampingnya. ”Saya bilang, sebentar lagi hujan, dan hujan beneran. Saya enggak tahu ini apa, tapi bir sudah menjadi lantaran,” kata Wagiman, yang dalam melalukan ritual mengaku dibantu makhluk lain.

Gemar berpuasa

Umumnya para pawang belum mengetahui kemampuannya sampai kemudian mencoba dan ternyata manjur. Wagiman, yang sejak lahir tidak pernah makan semua jenis hewan dan sejak tahun 1983 tidak pernah makan nasi, mengaku tidak tahu kapan diberi kemampuan itu. Satu yang ia percaya, ini ada kaitannya dengan kegemarannya berpuasa sejak bujangan.

Ia pernah berpuasa Senin-Kamis hingga tujuh bulan. Ia juga berpuasa tiga hari pada setiap hari kelahiran atau weton (hitungan Jawa) yang berarti 35 hari sekali. Ia bahkan pernah puasa tujuh hari tujuh malam tanpa makan apa pun, kecuali air putih. Wagiman juga berpuasa ngrowot (hanya makan sayuran), puasa mutih (hanya nasi), dan ngalong (hanya buah-buahan) masing- masing selama 40 hari.

”Puasa itu selain badan enak, batin pun tenang dan peka,” kata Wagiman, yang selama berpraktik tidak pernah mematok tarif tertentu alias seikhlasnya.

Berpuasa juga dilakukan Akie, Taufik, dan Hamzah, pawang hujan asal Sleman, Yogyakarta, lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Mereka terbiasa shalat malam serta berzikir.

Puasa hanya satu hal. Ada beberapa fase yang harus diikuti, seperti dilakukan Akie dan Taufik. Tahap pertama adalah pembersihan dosa, yakni dengan berzikir. Fase kedua adalah buka aura yang dipimpin Ketua Yayasan Nursyifa Reno Wilopo dan ketiga adalah pelatihan pawang hujan. Setiap malam mereka harus shalat tahajud dan setiap pagi shalat duha. ”Setelah itu, akan terlihat siapa yang berbakat dan siapa yang tidak,” kata Akie.

Mengalihkan hujan

Nah, kalau ramalan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika kadang-kadang meleset, apakah pawang hujan bisa menjadi ”tersangka”? Mereka spontan menyangkal. ”Kami ini bukan mengubah cuaca, tetapi memindahkan hujan ke tempat lain. Jadi, hujan tetap turun. Sama seperti BMKG, saya pun pernah gagal,” kata Wagiman.

Akie juga mengaku pernah gagal sehingga turun gerimis meski itu terjadi saat mendung benar- benar pekat. ”Bayangkan, saya harus menahan dari pagi sampai malam. Sangat melelahkan,” katanya. Akie juga pernah ”bertempur” dengan pawang lain sewaktu resepsi pernikahan. ”Saya buang ke selatan, dia ke utara, jadi berbenturan di tengah. Terjadi percikan api dan kilat. Mendung tebal sekali, tapi hujan turun deras setelah acara selesai,” tuturnya.

Bagi Hamzah, pengalihan hujan adalah wujud komunikasi antara manusia dan alam. ”Semua orang bisa. Pernah enggak merasa gerah saat hujan mau turun? Itu sebuah bentuk komunikasi, disadari atau tidak. Soal arah angin, itu gampang sekali kita rasakan,” ujar Hamzah.

Memang, untuk ”menyuruh” awan menyingkir, ada komunikasi khusus yang perlu dilatih. Bagi Hamzah, ilmu mengalihkan hujan ini bisa juga disebut sebagai ilmu yang melampaui hal kasatmata, sebagai ilmu yang metafisik.

Maka, bisa dimaklumi kalau para pawang hujan ini pun mampu meramal jodoh, membaca aura, hingga memburu hantu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau