MATARAM, MINGGU - Para pedagang tebu di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) berharap warga Tionghoa menyerbu dagangan mereka yang belum laku terjual hingga sehari menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2560, 26 Januari 2009.
"Kami berharap warga Tionghoa beramai-ramai beli tebu ini karena sudah terlanjur bawa kesini dalam jumlah banyak, namun baru sebagian yang laku terjual," kata pedagang tebu di kawasan pertokoan Cakranegara Mataram, Neni Marlina (33) Minggu (25/1) sambil menunjuk barang dagangannya.
Tebu oleh orang Tionghoa dijadikan lambang kebahagiaan atau keharmonisan. Neni Marlina mengatakan, jumlah tebu yang laku terjual sejak mulai berjualan tiga hari yang lalu hingga sehari menjelang perayaan Imlek baru 350 batang, sedangkan jumlah tebu yang siap dijual mencapai 500 batang lebih.
"Pada perayaan Imlek tahun lalu saya bisa menjual tebu lebih dari 1000 batang, tapi sekarang ini sepertinya sulit dan saya tidak tahu penyebabnya," ujar Marlina dibenarkan rekan-rekannya sesama pedagang tebu.
Neni mengatakan, dirinya dan pedagang tebu lainnya terpaksa menjual murah tebu yang terlanjur disediakan untuk konsumen warga Tionghoa agar tidak banyak merugi.
"Saya dan teman-teman terpaksa lelang karena daunnya sudah kering dan tidak mau dibeli konsumen. Harga lelang dengan harga Rp 2.500 per batang, setengah dari harga jual yaitu Rp 5.000 per batang," katanya.
Tebu yang dijual para pedagang itu umumnya didatangkan dari daerah Lombok Timur dan Lombok Tengah, kawasan sentra produksi tebu di Pulau Lombok. Lazimnya, batang tebu yang berdaun laris terjual menjelang perayaan Tahun Baru Imlek karena warga Tionghoa menjadikan batang tebu berdaun itu sebagai lambang keharmonisan.
Batang tebu itu dipajang di depan pintu atau gerbang rumah setelah dibungkus dengan kertas berwarna merah yang melambangkan kebahagiaan. Ketua Perkumpulan Sosial Bhakti Mulia (PSBM) Mataram, S. Widjanarko alias Wang Ping Sen, mengatakan sudah menjadi tradisi warga Tionghoa memajang batang tebu yang masih ada daunnya dan dibungkus kertas berwarna merah sebagai sesuatu yang melambangkan keharmonisan dan kebahagiaan, menjelang perayaan Imlek.
"Pada saat Imlek nanti setiap rumah selalu menyediakan sesuatu yang manis-manis, seperti tebu yang memiliki rasa manis dan buah-buahan lainnya, yang penting rasanya manis," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang