JAKARTA, MINGGU - Kurangnya generasi muda yang berminat terhadap kesenian dan budaya Tionghoa memunculkan ketakutan terputusnya tongkat estafet budaya tersebut. Parahnya, generasi Tionghoa sendiri banyak yang tidak tahu tentang sejarah budayanya.
"Keadaan ini, perlu dibangun semacam komunitas untuk saling bertukar pikiran dan mengajak untuk mengenal dan mempelajari kesenian dan budaya Tionghoa," kata Pemilik Everyday Mandarin Alfonso Indra Wijaya usai mengisi acara menyambut imlek di Mal Taman Anggrek Jakarta, Minggu (25/1).
Alfonso mengatakan, tidak sedikit etnis Tionghoa yang bisa berbahasa Tionghoa sehingga ditakutkan akan terputus generasi di tengah jalan. Padahal, kebudayaan Tionghoa saat ini cukup digemari dan bisa ditemui di banyak tempat. Tidak seperti dulu, untuk belajar bahasa antarsesama etnis harus dilakukan sembunyi-sembunyi.
Saat ini bersama komunitasnya, sedang dibangun sebuah jaringan yang tidak hanya mempelajari bahasa tetapi kebudayaan dan seni Tionghoa. Sebagai contoh, belajar bermain barongsai, belajar tarian khas Tionghoa, belajar musik termasuk menjadi seorang dalang wayang potehi. "Siapa saja bisa bergabung dan belajar tanpa membedakan suku, ras dan agama" tambahnya.
Dirinya juga yakin, jika banyak komunitas yang sejenis, kebudayaan Tionghoa akan kembali mewarnai khasanah budaya bangsa. Apalagi, budaya Tionghoa sudah ditunggu banyak orang setelah hilang dalam waktu yang sangat lama. (C12-08)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang