JAKARTA, SELASA — Rupiah, Selasa (27/1) pagi, ada di posisi Rp 11.250/Rp11.300 per dollar AS. Direktur Utama PT Financorpindo Nusa Edwin Sinaga di Jakarta mengatakan, rupiah mendapat tekanan pasar akibat aksi beli dollar AS oleh pelaku pasar.
"Pelaku pasar cenderung membeli dolar AS ketimbang rupiah meski sebagian pasar uang di Asia seperti di China, Korea Selatan, dan Hongkong tutup menyambut liburan Tahun Baru China," katanya.
Karena itu, menurut dia, aktivitas perdagangan di pasar uang masih lesu karena hanya sebagian kecil pelaku pasar yang bermain di pasar, sedangkan sebagian besar masih menyambut liburan tersebut. "Namun, kebutuhan dollar AS di pasar domestik cenderung agak meningkat yang mendorong mata uang asing itu menguat tajam terhadap rupiah," ucapnya.
Edwin mengatakan, Bank Indonesia (BI) pada awal perdagangan ini kemungkinan hanya melihat dan memantau pergerakan mata uang itu, apalagi aktivitas pasar tidak begitu besar. "Meski demikian, BI agak khawatir juga melihat tekanan pasar makin meningkat yang mendorong mata uang itu mendekati angka Rp 11.300 per dollar AS dan ini harus segera diambil langkah untuk menahan tekanan tersebut," katanya.
BI, lanjut dia, tidak ingin rupiah mendekati angka Rp 11.500 per dollar AS, dan akan segera melepas cadangan dollarnya agar rupiah kembali berada di posisi Rp 11.000 per dollar AS. "Kami memperkirakan rupiah masih berada dalam batas yang wajar dan tidak mengkhawatirkan karena tekanan tidak akan berlangsung lama, "ucapnya.
Yang dikhawatirkan saat ini, menurut dia, apabila pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan rupiah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang