GRESIK, SELASA — Pemerintah Kabupaten Gresik dan Lamongan berupaya untuk menuntaskan buta aksara dan mendorong mereka yang telah mengikuti keaksaraan fungsional untuk mengikuti kelompok belajar paket A. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik Chusaini Must az, Selasa (27/1), mengatakan, sebenarnya program pemberantasan aksara semakin digencarkan sejak 2003 hingga 2007.
Pada 2007, angka buta aksara di Gresik untuk usia 15-55 tahun sudah bisa dituntaskan. Namun, karena usia penyandang buta aksara diperpanjang hingga 60 tahun maka didata ulang. Sebanyak 7.693 buta aksara telah dituntaskan pada 2008 lalu dengan mengikuti program dasar meliputi baca, tulis, dan berhitung.
Mantan Kepala Seksi Pendidikan Keaksaraan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik yang kini menjabat Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Manyar, Siti Fatimah, menyebutkan pemberantasan buta aksara dibagi program dasar, lanjutan dan pelestarian. Ia juga mengatakan, sebanyak 7.693 angka buta aksara di Gresik sudah tuntas 2008 lalu dengan mengikuti program dasar melalui keaksaraan fungsional.
Fatimah menambahkan, kini mereka yang masih muda dan punya semangat belajar didorong untuk mengikuti program lanjutan. Kini ada 17 kelompok masing-masing terdiri dari 10 orang yang mengikuti program lanjutan. "Bahkan kami menyiapkan tiga kelompok masing-masing terdiri dari 20 orang di Kecamatan Bungah, Panceng, dan Kedamean yang didorong mengikuti kelompok belajar paket A (setingkat SD)," kata Siti.
Untuk mengembangkan kemampuan keaksaraan di Gresik maka ada program pelestarian untuk pelestarian peningkatan pembelanjaran dengan menggalakkan taman baca. "Kami mendorong mereka yang droup out Sekolah Dasar untuk mengikuti kejar Paket A. Kalau nantinya yang muda-muda ini masih punya semangat dan gairah belajar didorong lagi untuk ikut kejar paket B (setingkat SMP) begitu seterusnya hingga setidaknya lulus paket C (setingkat SMA)," ujar Siti.
Upaya memperbanyak taman baca masyarakat merupakan program lanjutan pemberantasan buta aksara. Mereka yang didorong ikut program paket A telah mendapatkan sertifikat surat keterangan melek aksara (Sukma 1). Kegiatan belajar dibimbing tutor yang diambil dari guru SD/MI.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik di Gresik pada 2007, tercatat 7.693 orang buta huruf usia 15-60 tahun. Kebanyakan buta huruf di wilayah Kecamatan Benjeng dan Duduksampeyan. Angka buta aksara didominasi perempuan sebanyak 5.567 orang, laki-laki 2.126 orang. Jumlah penduduk buta aksara tingkat dasar usia 45-60 pada tahun 2008 sebanyak 1.457 orang, sebelumnya pada 2007 tercatat 2.670 orang.
Warga belajar yang buta aksara tingkat dasar didominasi perempuan, pada 2007 mencapai 2.253 orang, pada 2008 sebanyak 1.230 orang. Sebelumnya penduduk buta aksara tingkat dasar usia 15-44 tahun pada 2002 tercatat 6.973 orang, dan 2006 turun menjadi 1.286 orang.
Kelompok Keaksaraan di Gresik umumnya bukan karena putus sekolah, melainkan karena faktor usia sehingga mereka lebih memilih program kelompok belajar paket untuk melanjutkan pendidikan. Selama ini mereka belajar di bawah naungan lembaga pendidikan nonformal, di antaranya Program Pendidikan Keluarga, Muslimat, dan Forum Tenaga Lapangan Dinas Pendidikan Gresik.
Adapun di Lamongan pada 2008 berdasarkan data BPS tercatat 10.774 angka buta huruf dan baru dituntaskan 4.704 dalam 470 kelompok belajar. Sisanya sebanyak 6.070 akan dituntaskan pada 2009. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan Musthafa Nur mengatakan, upaya pemberantasan buta huruf melibatkan Dinas Pendidikan bekerja sama dengan organisasi masyarakat, seperti Program Kesejahteraan Keluarga, Dharma Wanita, Aisyiyah dan Muslimat.
Pemkab Lamongan berupaya meningkatkan kualitas pendidikan termasuk membuat masyarakat melek huruf. Dia berharap warga Lamongan terus meningkatkan motivasi belajar, berlanjut hingga ke tingkat lebih tinggi. "Meski usia telah lanjut, semangat belajar jangan pernah kendur," ujarnya.
Menurut dia, Keaksaraan Fungsional (KF) merupakan program pendidikan luar sekolah bagi warga yang buta aksara. Dengan program itu diharapkan di Lamongan tidak ada lagi warga yang buta aksara. "Setelah mendapatkan pembelajaran selama enam bulan, diharapkan tidak ada lagi warga yang tanda tangan dengan cap jempol karena sudah dapat menulis nama masing-masing," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang