SOLO, SELASA — Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto batal hadir pada pembukaan acara Rakernas IV PDI Perjuangan di Solo, Jawa Tengah, Selasa (27/1). Ketidakhadiran Prabowo diwakilkan oleh Ketua Umum DPP Partai Gerindra Suhardi.
"Mas Prabowo meminta maaf tidak dapat hadir untuk menghadiri pembukaan Rakernas PDI Perjuangan di Solo. Beliau terkena flu berat sejak dua hari lalu setelah melakukan kunjungan ke beberapa daerah. Dokter melarang Mas Prabowo untuk berpergian, istirahat total," kata Haryanto Taslam, mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan yang kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Media Center Partai Gerindra secara khusus kepada Persda Network.
Politisi yang kerap disapa Hartas ini membantah bila ketidakhadiran Prabowo karena kesengajaan. Prabowo, kata Hartas lagi, sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk hadir atas undangan PDI Perjuangan. "Tapi karena tiba-tiba flu berat, Mas Prabowo kemudian batal hadir," Hartas menegaskan.
Hartas mengatakan, hingga saat ini belum ada perjanjian apa pun terkait rencana untuk menyandingkan Megawati dengan Prabowo Subianto pada pilpres mendatang. Hartas menjelaskan, rencana untuk berduet masih terlalu dini untuk dibicarakan.
"Soal duet itu, masih terlalu dinilah untuk dibicarakan. Alangkah lebih baik, bila itu dibicarakan lebih lanjut setelah pemilu legislatif nanti. Karena kita juga belum tentu tahu, berapa suara yang akan didapat PDI Perjuangan dan berapa suara yang akan didapat oleh Partai Gerindra. Meski memang, pertemuan dengan Mas Prabowo, sudah beberapa kali dilakukan," papar Hartas.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Politik Anas Urbaningrum menyesalkan pidato Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri terkait pernyataan pemerintah menjadikan rakyat seperti Yoyo. Anas menilai, apa yang dikatakan Ibu Mega dalam pidatonya itu adalah sebuah sikap panik.
"Ibu Mega panik dengan kebijakan pemerintah yang populis. Sebagai parpol yang mengaku pro wong cilik mestinya berani. Jangan karena analisis popularitas pemerintah naik lantaran harga BBM turun, lantas panik dan memproduksi penilaian yang tidak tepat," tandas Anas Urbaningrum.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang