Flu Berat, Prabowo Batal Hadiri Rakernas PDI-P

Kompas.com - 27/01/2009, 21:25 WIB

SOLO, SELASA — Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto batal hadir pada pembukaan acara Rakernas IV PDI Perjuangan di Solo, Jawa Tengah, Selasa (27/1). Ketidakhadiran Prabowo diwakilkan oleh Ketua Umum DPP Partai Gerindra Suhardi.

"Mas Prabowo meminta maaf tidak dapat hadir untuk menghadiri pembukaan Rakernas PDI Perjuangan di Solo. Beliau terkena flu berat sejak dua hari lalu setelah melakukan kunjungan ke beberapa daerah. Dokter melarang Mas Prabowo untuk berpergian, istirahat total," kata Haryanto Taslam, mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan yang kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Media Center Partai Gerindra secara khusus kepada Persda Network.

Politisi yang kerap disapa Hartas ini membantah bila ketidakhadiran Prabowo karena kesengajaan. Prabowo, kata Hartas lagi, sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk hadir atas undangan PDI Perjuangan. "Tapi karena tiba-tiba flu berat, Mas Prabowo kemudian batal hadir," Hartas menegaskan.

Hartas mengatakan, hingga saat ini belum ada perjanjian apa pun terkait rencana untuk menyandingkan Megawati dengan Prabowo Subianto pada pilpres mendatang. Hartas menjelaskan, rencana untuk berduet masih terlalu dini untuk dibicarakan.

"Soal duet itu, masih terlalu dinilah untuk dibicarakan. Alangkah lebih baik, bila itu dibicarakan lebih lanjut setelah pemilu legislatif nanti. Karena kita juga belum tentu tahu, berapa suara yang akan didapat PDI Perjuangan dan berapa suara yang akan didapat oleh Partai Gerindra. Meski memang, pertemuan dengan Mas Prabowo, sudah beberapa kali dilakukan," papar Hartas.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Politik Anas Urbaningrum menyesalkan pidato Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri terkait pernyataan pemerintah menjadikan rakyat seperti Yoyo. Anas menilai, apa yang dikatakan Ibu Mega dalam pidatonya itu adalah sebuah sikap panik.

"Ibu Mega panik dengan kebijakan pemerintah yang populis. Sebagai parpol yang mengaku pro wong cilik mestinya berani. Jangan karena analisis popularitas pemerintah naik lantaran harga BBM turun, lantas panik dan memproduksi penilaian yang tidak tepat," tandas Anas Urbaningrum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau