AS Siap Hadapi Ancaman Militer China

Kompas.com - 28/01/2009, 03:40 WIB

WASHINGTON, RABU - Menteri Pertahanan AS Robert Gates memastikan pasukan AS siap menghadapi ancaman militer apapun dari China. Kepastian ini disampaikan oleh Robert Gates dalam dengar pendapat Senat di Washington untuk mengantisipasi kemungkinan ancaman militer China pada masa mendatang.

Keterangan Gates itu disampaikan meskipun Menteri Luar Negeri Hillary Clinton telah menyampaikan AS membina dialog ekonomi dengan China. "AS perlu membentuk dialog komprehensif dengan China," kata Hillary. "Keterlibatan dalam dialog ekonomi merupakan aspek sangat penting dari hubungan AS dengan China, namun itu bukan hanya aspek dari hubungan bilateral," tambahnya.

AS membentuk diskusi tingkat tinggi di bidang ekonomi yang diadakan 2 kali setahun sejak akhir tahun 2006 atau saat masih berada di bawah pemerintahan George W. Bush. Hubungan perdagangan antara AS dan China terkadang menemui ketegangan.

Menteri Keuangan Timothy Geithner menjelaskan belakangan Presiden Barack Obama yakin bahwa China telah memanipulasi nilai mata uangnya. Tindak manipulasi ini mengakibatkan kalangan pengusaha manufaktur AS merasa Beijing tak menciptakan produknya menjadi lebih murah bagi konsumen AS dan harga produk AS di China menjadi lebih mahal.
    
Kekhawatiran AS di bidang militer terutama ditujukan pada hubungan China dan Taiwan. China dan Taiwan berpisah lewat perang sipil pada 1949. Namun, Beijing tetap mempertimbangkan Taiwan sebagai bagian wilayah teritorialnya dan berupaya merebut kembali wilayah itu dengan kekerasan apabila diperlukan.

AS selama ini menyuplai Taiwan dengan persenjataannya. Sementara Beijing telah mengarahkan rudalnya untuk mengintimidasi Taiwan.

Gates menjelaskan Departemen Pertahanan AS telah menciptakan kemajuan dalam mengembangkan sejumlah program untuk menangkal keunggulan teknologi China yang diperkirakan dapat membahayakan kehadiran kapal induk AS. Gates tak menyebutkan program yang dimaksud. Namun, Gates menerangkan pasukan AS telah disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan ketegangan militer di Asia itu.

Kesiagaan ini ditunjukkan lewat kehadiran kapal induk USS George Washington yang bertenaga nuklir dan telah memiliki pangkalan baru di Jepang. Kapal yang dilengkapi dengan 67 pesawat tempur itu mengangkut 1,8 juta kilogram bom.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau