MADRID, SELASA - Pembangunan ekonomi di negara berkembang bisa mundur satu dekade ke belakang. Krisis keuangan telah membuat modal mengalir keluar. Hal ini diperburuk dengan krisis pangan, yang makin memukul warga di negara berkembang.
”Jika negara-negara maju tidak mengulurkan tangan, pembangunan ekonomi di negara berkembang bisa merosot menjadi setara dengan keadaan satu dekade lampau,” kata Direktur Pelaksana Bank Dunia Ngozi Okonjo-Iweala dalam seminar di Madrid, Spanyol, Selasa (27/1).
Dengan demikian, program pemberantasan kemiskinan, penyakit, buta huruf, seperti dimaklumatkan lewat program PBB bernama Millennium Development Goals, serta-merta akan terhambat.
”Krisis keuangan dan pangan datang saat bersamaan. Dua hal ini bisa memerosotkan kemajuan yang sudah sempat dipacai,” kata Okonjo-Iweala.
Bertambah 40 juta
Krisis keuangan dan pangan membuat satu miliar warga dunia terancam malnutrisi pada tahun 2009, bertambah 40 juta jiwa dari tahun 2008.
Badan kemanusiaan global, Oxfam, yang bermarkas di Inggris, menuangkan laporan berjudul A Billion Hungry People.
Harga-harga pangan telah turun, tetapi belum kembali ke tingkat sebelumnya. Tampaknya penurunan harga tidak akan terjadi karena investasi di sektor pertanian tidak diindahkan.
Kini negara-negara seperti Afganistan, Etiopia, Kenya, Mozambik, dan Zimbabwe menjadi contoh nyata kesengsaraan warga akibat kelangkaan dan mahalnya harga pangan.
”Para pemimpin dunia memiliki peluang mencegah keadaan agar tidak lebih buruk dari sekarang,” demikian kata Carlos Galian, pakar kebijakan pertanian dari Oxfam.
”Kegagalan bertindak akan menyebabkan jutaan warga terjebak ke dalam kelaparan,” katanya dalam seminar soal krisis pangan yang dihadiri 95 negara di Madrid, yang berakhir hari Selasa kemarin. (AFP/MON)