Laporan wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary
JAKARTA, RABU — Anggota Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid tampaknya ogah menjadi nomor dua. Ditanya mengenai kabar bahwa dirinya menjadi salah satu kandidat pendamping Megawati, dengan percaya diri ia mengatakan bahwa tawaran itu masih terlalu dini.
Sebabnya, tawaran tersebut menurutnya mendahului hasil pemilu legislatif yang belum tentu mendudukkan PKS berada di bawah PDI-P. "Saya tidak langsung mengatakan bahwa PDI-P merendahkan PKS. Kalau sejak dari sekarang, hasil pemilu legislatif saja belum tahu, kemudian PKS hanya dicalonkan sebagai nomor dua, kok seolah-olah dari sekarang sudah divonis PKS suaranya bakal lebih rendah dari PDI-P," ujar Hidayat di Gedung DPR, Rabu (28/1).
Kondisi politik menjelang pemilu yang mulai memanas dipandang masih sangat cair, apalagi dengan putusan MK mengenai suara terbanyak, dipandang Hidayat masih sangat mungkin memberikan perubahan signifikan. "Terlalu dini kalau sudah dipatok hanya layak menjadi cawapres. Rakyat belum menentukan pilihan. Kami tidak pernah dibiasakan untuk menyatakan 'saya bersedia'. Semuanya tergantung pilihan partai," lanjutnya.
Jika perolehan suara mencapai 20 persen, ia memastikan PKS tidak akan 'digandeng' melainkan 'menggandeng'. "Kalau mencapai 20 persen, maka pemilih PKS pasti akan menuntut untuk menggandeng, bukan digandeng," kata Ketua MPR ini.
Hubungan yang dilakukan dengan PDI-P, dikatakan Hidayat, hanya sebatas hubungan kepartaian.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang