Honda Segera Rakit Freed Minivan 7 Penumpang di Indonesia

Kompas.com - 29/01/2009, 23:00 WIB

JAKARTA, KAMIS — Produk Honda yang sangat menarik dan perlu ditunggu tahun ini kehadirannya oleh konsumen mobil Indonesia—utamanya fans berat Honda—adalah minivan dengan daya muat 7 penumpang. Kendaraan ini segera dirakit dan dipasarkan di Indonesia. Meski PT Honda Prospect Motor (HPM) tidak mau menyebutkan namanya, diperkirakan minivan tersebut adalah Freed.

Dugaan itu muncul setelah Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy hari ini mengatakan bahwa van 7 penumpang ukuran sedang dan lebih mewah, Odyssey, peluncurannya ditunda.

Ketika Kompas.com menanyakan apakah van 7 penumpang itu dirakit atau CBU, Jonfis langsung mengatakan,”Dirakit di Indonesia.”

Sebelumnya, dalam acara Warta Citra Adiwahana 2009, ia mengatakan, “Wartawan Indonesia akan mendapat kehormatan, orang pertama yang menyaksikan peluncuran van 7 penumpang terbaru di ASEAN.”

Saat ini, Freed baru dipasarkan di negara asalnya, Jepang, dan diluncurkan akhir Mei tahun lalu. Ketika wartawan coba menggali lebih dalam tentang van yang akan diluncurkan Honda itu, Jonfis berkelit. ”Nanti kami undang lagi,” kilahnya.

Minivan
Di Jepang, Freed dikelompokkan Honda pada minivan. Hal tersebut didasarkan pada dimensinya yang kompak: panjang 4.215 mm, lebar 1.695 mm dan tinggi 1.715 mm. Jarak sumbu roda 2.740 mm. Hanya 325 mm lebih panjang dari All-New Jazz, tetapi lebarnya sama. Mesin yang digunakan juga sama dengan Jazz, yaitu i-VTEC 1.500 dengan transmisi otomatik CVT torque converter.

Makin kuatnya dugaan bahwa Freed akan dirakit dan dipasarkan di Indonesia karena sampai saat ini Honda belum punya pengganti Stream yang telah lama dihentikan produksinya. Di samping itu, dalam survei yang dilakukan oleh ATPM Jepang, kendaraan yang paling disukai konsumen Indonesia adalah yang berkapasitas 7 penumpang dengan tiga deret jok.

Diperkirakan, harga minivan ini berkisar antara Jazz dan All-New City atau sekitar Rp 225 juta. Honda sendiri pusing menentukan harga karena rupiah yang terus merosot. Padahal, meski sudah dirakit di Indonesia, sebagian komponen masih harus diimpor dari Jepang.

Di lain hal, nilai tukar yen yang makin tinggi juga menyebabkan harganya makin mahal. Jadi, dengan merakit Freed di Indonesia, Honda bisa menekan harga karena bebas dari bea masuk dan dan biaya produksi juga lebih murah.

Ceper
Honda menyebut, Freed dikembangkan dengan konsep “Kebebasan untuk menciptakan gaya hidup yang sempurna” (Freedom to create the perfect style). Ciri khas van ini—sama dengan van Honda lainnya—adalah posturnya yang ceper. Menurut Honda, tujuan mereka membuat van seperti ini agar gesit bermanuver di jalanan dalam kota. Tak kalah menarik, pintu belakang menggunakan model geser.

Ruang kabin van ini dinilai Honda cukup lega untuk ditumpangi orang dewasa yang duduk dalam tiga deret jok. Selain sebagai kendaraan keluarga, Honda menilai Freed juga cocok untuk aktivitas lainnya, misalnya buat gaya hidup, transportasi sehari-hari, dan untuk perjalanan jarak jauh.

Wajah minivan ini mirip dengan All-New Jazz yang bersudut tajam. Bagian depan membentuk segi tiga, sedangkan ruang penumpang atau kabin berupa kotak. Menurut Honda, dengan konsep seperti ini, Freed jadi aerodinamis dan tetap menyediakan ruang kabin yang lapang.

Kap mesin dilengkapi dengan gril berukuran besar beraksentuasi krom. Penampilannya makin menarik dengan desain lampu depan bersudut.

Fitur lainnya, suspensi depan menggunakan MacPherson strut dan batang torsi berentuk “H” di belakang. Tujuannya, untuk memperoleh stabilitas dan kenyamanan. Perlengkapan lainnya adalah power steering elektrik. Bukti minivan ini lincah, radius putarnya 5,2 meter. Berminat? Pasti dong!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau