YANGON, KAMIS - Myanmar membantah bahwa etnis Rohingya yang tertangkap di perairan Thailand berasal dari negara itu. Pejabat Myanmar, Kamis (29/1), mengatakan, manusia perahu itu berasal dari Banglades dan sama sekali tidak memiliki hubungan sejarah dengan Myanmar.
”Tidak ada yang disebut-sebut sebagai kelompok etnis minoritas Rohingya dalam sejarah kami, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan,” ujar pejabat Myanmar yang tidak disebutkan namanya kepada AFP.
”Mereka yang disebut Rohingya adalah orang Banglades yang meninggalkan negaranya untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka mencoba mendapat simpati dari negara-negara Barat dengan mengaku sebagai orang Rohingya dari Myanmar. Ini bukan masalah kami. Ini masalah Banglades,” kata pejabat itu.
Kelompok hak asasi manusia menyebutkan orang-orang Rohingya itu datang dari wilayah barat Myanmar. Mereka melarikan diri karena penindasan oleh junta militer Myanmar.
Sebanyak 78 orang Rohingya ditangkap Angkatan Laut Thailand di perairan Pulau Andaman. Surat kabar Bangkok Post melaporkan bahwa orang-orang itu diancam hukuman mati apabila kembali.
Menteri Luar Negeri Thailand Kasit Piromya, Kamis, mengatakan, dia telah ”setuju secara prinsip” untuk memberikan akses kepada Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) guna menemui orang-orang Rohingya yang ditangkap itu.
”Kementerian Luar Negeri akan berdiskusi dengan badan keamanan dan kami akan memberi jawaban kepada UNHCR supaya bisa mengirim perwakilan untuk menemui mereka,” kata Kasit.
Ke-78 orang Rohingya tersebut telah divonis bersalah karena memasuki wilayah Thailand secara ilegal. Kemungkinan mereka akan dikembalikan ke tempat asal mereka setelah dipenjara selama lima hari.
Etnis Rohingya diyakini merupakan keturunan orang-orang Arab pada abad ke-7 yang mendiami wilayah barat Myanmar selama berabad-abad. Mereka tinggal di Negara Bagian Rakhine, tetapi ciri-ciri fisik dan bahasa mereka lebih mirip dengan orang Bengal di Banglades. Sebanyak 800.000 orang Rohingya tinggal di Myanmar, tetapi tidak diberi kewarganegaraan. (ap/afp/fro)