Rohingya Tidak Diakui

Kompas.com - 30/01/2009, 05:26 WIB
 

YANGON, KAMIS - Myanmar membantah bahwa etnis Rohingya yang tertangkap di perairan Thailand berasal dari negara itu. Pejabat Myanmar, Kamis (29/1), mengatakan, manusia perahu itu berasal dari Banglades dan sama sekali tidak memiliki hubungan sejarah dengan Myanmar.

”Tidak ada yang disebut-sebut sebagai kelompok etnis minoritas Rohingya dalam sejarah kami, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan,” ujar pejabat Myanmar yang tidak disebutkan namanya kepada AFP.

”Mereka yang disebut Rohingya adalah orang Banglades yang meninggalkan negaranya untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka mencoba mendapat simpati dari negara-negara Barat dengan mengaku sebagai orang Rohingya dari Myanmar. Ini bukan masalah kami. Ini masalah Banglades,” kata pejabat itu.

Kelompok hak asasi manusia menyebutkan orang-orang Rohingya itu datang dari wilayah barat Myanmar. Mereka melarikan diri karena penindasan oleh junta militer Myanmar.

Sebanyak 78 orang Rohingya ditangkap Angkatan Laut Thailand di perairan Pulau Andaman. Surat kabar Bangkok Post melaporkan bahwa orang-orang itu diancam hukuman mati apabila kembali.

Menteri Luar Negeri Thailand Kasit Piromya, Kamis, mengatakan, dia telah ”setuju secara prinsip” untuk memberikan akses kepada Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) guna menemui orang-orang Rohingya yang ditangkap itu.

”Kementerian Luar Negeri akan berdiskusi dengan badan keamanan dan kami akan memberi jawaban kepada UNHCR supaya bisa mengirim perwakilan untuk menemui mereka,” kata Kasit.

Ke-78 orang Rohingya tersebut telah divonis bersalah karena memasuki wilayah Thailand secara ilegal. Kemungkinan mereka akan dikembalikan ke tempat asal mereka setelah dipenjara selama lima hari.

Etnis Rohingya diyakini merupakan keturunan orang-orang Arab pada abad ke-7 yang mendiami wilayah barat Myanmar selama berabad-abad. Mereka tinggal di Negara Bagian Rakhine, tetapi ciri-ciri fisik dan bahasa mereka lebih mirip dengan orang Bengal di Banglades. Sebanyak 800.000 orang Rohingya tinggal di Myanmar, tetapi tidak diberi kewarganegaraan. (ap/afp/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau