Yusron: Presiden Tak Perlu Panik

Kompas.com - 30/01/2009, 17:51 WIB

JAKARTA, JUMAT — Wakil Ketua Komisi I DPR RI Yusron Ihza Mahendra menyarankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak panik dalam menyambut pelaksanaan Pemilu 2009. Meski mencium adanya sinyalemen tentang kampanye "ABS" (Asal Bukan S), Yusron mengharapkan sinyalemen tersebut bukan menjadi sesuatu yang menggusarkan. Bahkan, dia menilai bahwa seharusnya diabaikan saja.

Yusron mengatakan, kepanikan dan rasa kurang percaya diri ditunjukkan SBY saat mengumpulkan petinggi TNI/Polri pada Kamis (29/1) lalu. Pengumpulan yang dilakukan guna memperoleh penegasan dan meyakinkan diri tentang sikap netralitas TNI/Polri terhadap politik praktis, lanjutnya, mungkin merupakan langkah yang didasari niat baik.

"Akan tetapi, langkah ini dapat memberi kesan bahwa Presiden panik dan kurang percaya diri. Adanya sinyalemen tentang kampanye "ABS" (Asal Bukan S) seperti yang disebutkan Presiden seharusnya bukan menjadi hal yang menggusarkan dan sebaiknya diabaikan," ungkap Yusron kepada Persda, Jumat (30/1).

Saran yang diberikan Yusron bukannya tanpa alasan. Hal itu mengacu pada pengalamannya saat menjadi orang nomor sembilan dalam Tim Resmi Kampanye SBY-JK pada tahun 2004. Waktu itu, kata Yusron, beredar kampanye ABM (Asal Bukan M). M yang menjadi sasaran kala itu, tidak menggubris rumor tersebut.

"M yang jadi sasaran kala itu, toh tenang-tenang saja. Kampanye-kampanye miring seperti itu merupakan hal yang lazim terjadi dan tidak perlu dipusingkan," tegas pria yang mengaku sedang berada di Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Sementara itu, sehubungan dengan netralitas TNI/Polri, Yusron yakin bahwa kedua lembaga tersebut memiliki komitmen yang mutlak. Dan komitmen itu telah terbukti dalam Pemilu dan Pilpres 2004. Sebagai orang yang dalam 10 besar tim resmi kampanye SBY-JK, adik kandung Yusril Ihza Mahendra itu melihat bahwa saat itu TNI/Polri tetap netral. Bahkan, termasuk tidak berpihak kepada SBY-JK.

"Sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI Bidang Pertahanan, saya memuji sikap TNI/Polri ini. Dalam sidang-sidang kami dengan Dephan/Mabes TNI dan bahkan juga dengan Kapolri, kami sering mengonfirmasi masalah netralitas ini dan kami mendapat kesan TNI/Polri tetap konsisten," ujarnya.

Ditambahkan Yusron, TNI/Polri adalah penjaga ketertiban negara. Karena itu, sudah pas jika mereka merelakan untuk tidak menggunakan hak pilih yang membuatnya tidak terlibat sebagai pemain. DPR sendiri, yang salah satu tugasnya mengontrol jalannya pemerintahan, tentu akan terus mengamati sikap TNI/Polri terhadap politik. "Karena itu, Presiden tidak perlu merasa terlalu cemas," imbuh Yusron. (Persda Network/M Ismunadi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau