Banjir Rendam Ratusan Rumah dan Sawah di Brebes

Kompas.com - 30/01/2009, 18:30 WIB

BREBES, JUMAT — Ratusan rumah, sawah, dan kandang itik terendam banjir setelah hujan deras mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Brebes sejak Kamis sore hingga Jumat (30/1) pagi. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, banjir mengakibatkan kerusakan pada tanaman dan kandang, serta menghambat aktivitas warga.

Banjir di Brebes seperti terlihat di Kelurahan Limbangan Kulon, Limbangan Wetan, Brebes di Kecamatan Brebes, Desa Dukuhwringin, Kecamatan Wanasari, dan Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba. Selain menggenangi rumah warga, banjir di Kelurahan Brebes juga menggenangi sekolah dan jalur pantura Jalan Ahmad Yani.

Setiawan (28), warga Kelurahan Brebes, Kecamatan Brebes, mengatakan, ketinggian air yang menggenangi rumah dan jalan bervariasi, antara 10 dan 30 sentimeter. "Air mulai masuk ke permukiman sekitar pukul 21.00. Saya terpaksa menguras malam-malam agar air tidak semakin tinggi," ujarnya.

Menurut dia, sejumlah kendaraan yang melintasi jalur pantura Jalan Ahmad Yani juga terpaksa antre. Hingga Jumat pagi, banjir di wilayah Kecamatan Brebes sudah mulai surut. Ketinggian air di beberapa lokasi hanya sekitar 10 sentimeter.

Banjir yang lebih besar terjadi di Desa Dukuhwringin, Kecamatan Wanasari. Ketinggian air yang menggenangi jalan mencapai hampir satu meter, sedangkan ketinggian air yang menggenangi rumah sekitar 10 hingga 20 sentimeter. Hingga Jumat pagi, aktivitas warga masih terganggu karena halaman rumah mereka masih penuh dengan air.  

Luapan Sungai

Taufik (40), warga Desa Dukuhwringin, mengatakan, banjir di wilayahnya akibat luapan Sungai Rayapan yang berjarak sekitar 0,5 kilometer dari permukiman, serta Sungai Kalimadin yang berjarak sekitar 200 meter dari permukiman. Kedua sungai tersebut mengalami sedimentasi sehingga tidak mampu menampung air hujan dan air kiriman dari wilayah selatan (wilayah atas).

Menurut dia, jumlah rumah yang terendam sekitar 200 rumah. Selain itu, sekitar 90 hektar tanaman padi berusia 2,5 bulan juga kebanjiran. Meskipun dapat diselamatkan, banjir akan menurunkan produktivitas tanaman hingga 50 persen. "Kalau biasanya satu hektar bisa dapat 6,5 ton, paling sekarang hanya tiga hingga empat ton," ujarnya.

Kepala Desa Dukuhwringin, Kecamatan Wanasari, Khasan mengatakan, wilayah tersebut memang menjadi langganan banjir setiap tahun. Sebenarnya, pemerintah sudah pernah mengeruk Sungai Rayapan, pada tahun 2006. Namun akibat aktivitas warga dan faktor alam, sungai kembali mengalami sedimentasi.

Banjir di Brebes juga menggenangi sekitar 20 kandang itik. Hal itu seperti terjadi di Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba. Ketua Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) Adem Ayem Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Atmo Suwito Rasban mengatakan, sekitar 20.000 ekor itik terpaksa dipindahkan ke tempat yang aman.

Meskipun dapat diselamatkan, produktivitas itik turun hingga sekitar 30 persen. Selain itu, sejumlah pagar kandang juga rusak akibat tergenang air. Menurut dia, kerugian peternak akibat banjir diperkirakan mencapai sekitar Rp 60 juta.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau