BREBES, JUMAT — Ratusan rumah, sawah, dan kandang itik terendam banjir setelah hujan deras mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Brebes sejak Kamis sore hingga Jumat (30/1) pagi. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, banjir mengakibatkan kerusakan pada tanaman dan kandang, serta menghambat aktivitas warga.
Banjir di Brebes seperti terlihat di Kelurahan Limbangan Kulon, Limbangan Wetan, Brebes di Kecamatan Brebes, Desa Dukuhwringin, Kecamatan Wanasari, dan Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba. Selain menggenangi rumah warga, banjir di Kelurahan Brebes juga menggenangi sekolah dan jalur pantura Jalan Ahmad Yani.
Setiawan (28), warga Kelurahan Brebes, Kecamatan Brebes, mengatakan, ketinggian air yang menggenangi rumah dan jalan bervariasi, antara 10 dan 30 sentimeter. "Air mulai masuk ke permukiman sekitar pukul 21.00. Saya terpaksa menguras malam-malam agar air tidak semakin tinggi," ujarnya.
Menurut dia, sejumlah kendaraan yang melintasi jalur pantura Jalan Ahmad Yani juga terpaksa antre. Hingga Jumat pagi, banjir di wilayah Kecamatan Brebes sudah mulai surut. Ketinggian air di beberapa lokasi hanya sekitar 10 sentimeter.
Banjir yang lebih besar terjadi di Desa Dukuhwringin, Kecamatan Wanasari. Ketinggian air yang menggenangi jalan mencapai hampir satu meter, sedangkan ketinggian air yang menggenangi rumah sekitar 10 hingga 20 sentimeter. Hingga Jumat pagi, aktivitas warga masih terganggu karena halaman rumah mereka masih penuh dengan air.
Luapan Sungai
Taufik (40), warga Desa Dukuhwringin, mengatakan, banjir di wilayahnya akibat luapan Sungai Rayapan yang berjarak sekitar 0,5 kilometer dari permukiman, serta Sungai Kalimadin yang berjarak sekitar 200 meter dari permukiman. Kedua sungai tersebut mengalami sedimentasi sehingga tidak mampu menampung air hujan dan air kiriman dari wilayah selatan (wilayah atas).
Menurut dia, jumlah rumah yang terendam sekitar 200 rumah. Selain itu, sekitar 90 hektar tanaman padi berusia 2,5 bulan juga kebanjiran. Meskipun dapat diselamatkan, banjir akan menurunkan produktivitas tanaman hingga 50 persen. "Kalau biasanya satu hektar bisa dapat 6,5 ton, paling sekarang hanya tiga hingga empat ton," ujarnya.
Kepala Desa Dukuhwringin, Kecamatan Wanasari, Khasan mengatakan, wilayah tersebut memang menjadi langganan banjir setiap tahun. Sebenarnya, pemerintah sudah pernah mengeruk Sungai Rayapan, pada tahun 2006. Namun akibat aktivitas warga dan faktor alam, sungai kembali mengalami sedimentasi.
Banjir di Brebes juga menggenangi sekitar 20 kandang itik. Hal itu seperti terjadi di Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba. Ketua Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) Adem Ayem Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Atmo Suwito Rasban mengatakan, sekitar 20.000 ekor itik terpaksa dipindahkan ke tempat yang aman.
Meskipun dapat diselamatkan, produktivitas itik turun hingga sekitar 30 persen. Selain itu, sejumlah pagar kandang juga rusak akibat tergenang air. Menurut dia, kerugian peternak akibat banjir diperkirakan mencapai sekitar Rp 60 juta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang