YOGYAKARTA, KOMPAS- Perayaan Sekaten yang dirangkai dengan event Pasar Malam Perayaan Sekaten atau PMPS yang berlangsung di Masjid Agung dan Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta, 30 Januari-9 Maret, tidak saja sebagai wujud memertahankan budaya, tetapi juga wahana penggalian potensi ekonomi. Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutannya ketika membuka PMPS, Jumat (30/1) sore, mengatakan, aktivitas ekonomi yang kemudian berkembang dari proses vitalisasi Sekaten itu merefleksikan jiwa semangat atau geest dari daya tahan internal komunitas pendukung budaya Sekaten. "Bahwa sekarang produk luar begitu terlihat unggul, maka tradisi Sekaten harus mampu menemukan bentuk penyemaian baru bagi produk-produk lokal, yang biasa disebut restorasi Sekaten," kata Sultan. Restorasi, menurut Sultan, adalah untuk kembali mendapatkan makna pemulihan identitas dengan cara mengutuhkan kembali jati diri bangsa yang penuh nilai budaya, sehingga memiliki daya tahan untuk bersanding dengan budaya global. Sultan melanjutkan, jika Bung Karno menyebut tentang geest yang harus merdeka, maka Bung Hatta memikirkan bagaimana menemukan mekanisme teknis agar geest kolektif dapat mengejawantah menjadi kekuatan ekonomi yang riil.
Peluang reformatif untuk mendukung tumbuh-kembangnya ekonomi kerakyatan itu ada pada tradisi Sekaten. Itu karena Sekaten dihidupi energi kultural yang memiliki kekuatan dahsyat dari dalam menciptakan pasar domestik. Pasar itu bagi masyarakat lokal lewat potensi unggulannya, yakni industri kreatif.
Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mengatakan, meski kesan ekonomi pada Sekaten lebih menonjol, sejatinya pelestarian budaya tidak ditinggalkan, bahkan terus dipertahankan. "Dalam rangkaian Sekaten, antara agama dan budaya jangan sampai tenggelam oleh aktivitas ekonomi," katanya.
Keterpaduan antara budaya dan ekonomi sebenarnya telah nampak sebelum perayaan Sekaten dilangsungkan. Sejak pasang patok akhir Desember 2008 lalu, misalnya, telah melibatkan prosesi budaya. Begitu pula saat PMPS berlangsung, di tengah hiruk pikuknya pasar rakyat dan keceriaan anak-anak menikmati roda permainan yang terus berputar, ternyata aktivitas budaya terus mendapat ruang.
Sebut saja pertunjukkan reog asal Ponorogo, Jawa Timur, yang meramaikan pembukaan PMPS. Disusul pentas kesenian dari 14 kecamatan di Yogyakarta yang tampil bergiliran setiap hari, aneka tarian klasik dan kreasi, jathilan, ketoprak, operet dan musik anak, shalawatan, hingga musik religi dan festival band.
Kalau ada yang menganggap budayanya kalah oleh ekonomi sepertinya tidak benar. "Semua sudah dibagi, ada pasar malam dan ada perayaan sekaten. Untuk ekonomi, tetap ada sekaligus untuk memberikan penguatan di saat krisis. Budaya juga tidak ditinggalkan," kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti.
Sejak dulu
Mengenai potensi ekonomi sekaten, seniman Djaduk Ferianto memiliki pandangan tersendiri. Menurut dia, aspek ekonomis dalam penyelenggaraan Sekaten telah ada sejak dulu. Oleh karena itu, ia tidak terlalu mempersoalkan sistem penyelenggaraan Sekaten yang kental dengan nuansa bisnis.
"Asal penyelenggaraannya profesional, pedagang yang harus membayar untuk mendapat kapling tentu tidak akan mengeluh. Begitu juga dengan pengunjung yang mendapat fasilitas toilet bersih dan suasana pasar malam yang nyaman dan aman. Ono rego ono rupo," katanya.
Menurut dia, setiap penyelenggaraan Sekaten tidak pernah sepi dari kritik. Namun mengubah penyelenggaraan Sekaten seperti yang diidealkan sangat tidak mudah. Perubahan zaman suka tidak suka telah ikut mengubah pandangan masyarakat terhadap pasar malam Sekaten. Dulu, penyelenggaraan Sekaten sangat dinantikan karena pilihan hiburan sangat terbatas.
Kini, keberadaan gedung pertunjukan, galeri seni hingga televisi menyediakan jenis hiburan yang beragam, sehingga Sekaten tidak lagi dinantikan seperti dulu. "Perubahan itu tidak bisa dihindari. Maka penyelenggaraan harus ikut berubah karena masyarakat menuntut hal-hal yang lebih dari sebelumnya," ungkapnya.
Sejauh ini, Djaduk melihat Pemerintah Kota Yogyakarta selaku penyelenggara Sekaten sudah berupaya mengakomdasi berbagai kritik dan masukan yang disampaikan masyarakat. Selain pasar malam yang sarat kepentingan komersial, mereka selalu menyediakan panggung hiburan yang menampilkan aneka jenis kesenian tradisional, mulai dari jathilan sampai ketoprak. Namun respon pengunjung terhadap berbagai pertunjukan itu tidak terlalu bagus.
Menurut Djaduk, perubahan dalam Sekaten tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemkot. Masyarakat yang mengisi acara Sekaten juga harus meningkatkan kreativitas. Pemkot sudah menyediakan ruang. "Kalau mau ideal, pedagang dan pengisi acara Sekaten juga harus memunculkan kreativitas mereka," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang