Presiden Somalia Terpilih di Tengah Konflik

Kompas.com - 31/01/2009, 11:17 WIB

MOGADISHU, SABTU — Pemuka Islam moderat, Syeikh Sharif Ahmed, pada Sabtu (31/1), meraih kemenangan menjadi Presiden Somalia dalam pemungutan suara di parlemen.

Negara tanduk Afrika itu tidak memiliki pemerintah sejak tumbangnya Presiden Mohamed Siad Barre pada 1991.

Berikut ini adalah beberapa kejadian penting di Somalia.

Penguasa Islam

- Juni 2006, milisi Islam bernama Dewan Mahkamah Islam Somalia mengambil alih Mogadishu, setelah  menumbangkan gembong perang dukungan AS. Washington menuduh kelompok Islam itu "memiliki hubungan dengan jaringan Al Qaeda".

- Dengan dukungan AS, negara jiran Somalia, Ethiopia, mengirim pasukan untuk mendukung pemerintah melawan milisi Islam dengan menyerang Baidoa pada Desember 2006. Pasukan itu membuat kemajuan cepat dengan mengambil alih Mogadishu dan menyingkirkan milisi Islam ke bagian selatan Somalia.

- Pada awal pekan ini, pasukan terakhir Ethiopia, yang telah mendukung pemerintah, ditarik dari Somalia dan menyisakan pertempuran antarfaksi.

- Suatu kelompok Islam moderat menguasai kota Dusamarebon pada Kamis dari kelompok garis keras Ash-Shahaab yang mendominasi kursi parlemen di Baidoa setelah pasukan Ethiopia ditarik. Ash-Shahaab telah berjanji untuk memberlakukan hukum Islam di seluruh Somalia.

Pemerintah sementara

- Para anggota parlemen memilih gembong perang Abdullahi Yusuf sebagai presiden dan Ali Mohamed Gedi sebagai perdana menteri untuk memimpin pemerintahan ke-14 sejak jatuhnya Barre.

Gedi mengundurkan diri pada Oktober 2007 dan digantikan oleh Hassan Hussein sebagai perdana menteri. Presiden Yusuf memecat Hussein pada Desember 2008 dan mengangkat Menteri Dalam Negeri Mohamed Mohamud Guled sebagai perdana menteri.

Yusuf mengundurkan diri pada 29 Desember dan Ketua Parlemen Syeikh Aden Madobe mengambil alih sebagai presiden sementara.
    
Pertumpahan darah dan kelaparan

- Aksi kekerasan di Somalia sejak 2007 telah menewaskan lebih dari 16.000 orang dan sekitar satu juta orang kehilangan tempat tinggal.

Kekerasan dan kelaparan itu mendorong aksi-aksi penculikan dan perompakan di lepas pantai Somalia.
    
Upaya perdamaian

- Pemerintah telah memprakarsai suatu kesepakatan perdamaian pada Juni 2008 bersama para tokoh oposisi. Kesepakatan itu mendesak segera penempatan pasukan penjaga perdamaian PBB.

- Pertemuan pada Agustus 2008 di Djibouti ditolak oleh faksi oposisi kelompok garis keras dan kelompok Ash-Shahaab dicurigai berada di belakang serentetan serangan bom mobil.
    
Perompakan

- Para perompak telah menyebabkan malapetaka di Teluk Aden, yang menghubungkan Eropa, Asia, dan Timur Tengah lewat Terusan Suez, membajak puluhan kapal tahun lalu dan membuat puluhan juta dolar AS sebagai tebusan.

- Serangan itu mengundang penempatan angkatan laut negara asing di kawasan itu termasuk China dan Uni Eropa.

- AS pada 8 Januari lalu mengumumkan suatu pasukan khusus untuk memberantas perompakan di kawasan di kawasan itu.

Upaya penempatan angkatan laut belum sepenuhnya berhasil karena pada Kamis, sebuah kapal tanker dibajak lagi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau