YOGYAKARTA, SABTU--Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengharapkan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) yang menjadi acara tahunan tersebut, mampu menemukan bentuk penyemaian baru bagi produk-produk lokal atau restorasi Sekaten.
"Restorasi adalah untuk mendapatkan makna pemulihan identitas sebagai cara mengutuhkan kembali jati diri bangsa yang penuh nilai-nilai budaya," kata Sultan HB X dalam sambutannya saat membuka Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) 2009, di Yogyakarta, Jumat.
Menurut Sultan, restorasi Sekaten tersebut diperlukan mengingat produk luar negeri terlihat lebih unggul dibanding produk dalam negeri, sehingga perayaan Sekaten dapat digunakan sebagai cara untuk meningkatkan daya tahan produk lokal.
Sultan menilai, peluang reformatif untuk mendukung tumbuh kembangnya ekonomi kerakyatan ada dalam tradisi Sekaten karena tradisi tersebut dihidupi oleh energi kultural yang memiliki kekuatan dasyat untuk menciptakan pasar domestik.
"Khususnya untuk masyarakat lokal itu sendiri melalui potensi unggulannya yaitu industri kreatif," katanya.
Mengenai makna yang terkandung dalam tradisi Sekaten, Sultan menyatakan bahwa melalui Sekaten masyarakat diharap mampu mengusir hal-hal negatif yang mampu mengancam disintegrasi bangsa sekaligus membawa inspirasi, misi dan semangat dari "Yogya untuk Indonesia".
Dengan semangat tersebut, Sultan HB X berharap, masyarakat Indonesia harus setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti yang telah diikrarkan dalam Amanat 5 September 1945.
Melalui Sekaten, modal sosial yang dimiliki yaitu semangat ’guyub rukun, saiyeg saeka kapti’, seharusnya dapat diubah menjadi etos kerja yang tinggi di masing-masing bidang.
"Jiwa kemerdekaan dan kemandirian itu harus terus menerus dihidupkan oleh Wong Yogya supaya meresap menjadi etos kerja bersama yang lebih produktif, kualitatif dan berdaya saing," ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto menyatakan Sekaten adalah elaborasi yang sangat maju mengingat di dalamnya terjadi akulturasi yang mendalam antara agama dengan kebudayaan masyarakat Jawa.
Daya tarik Sekaten, kata Walikota, selain karena menjadi tulang sungsum masyarakat Jawa, tetapi juga bukti sejarah dan kebanggaan masa lalu yang dapat dinikmati langsung oleh masyarakat.
"PMPS juga telah membuka interaksi sosial, ekonomi dan budaya oleh semua pengunjung yang heterogen," katanya.
PMPS 2009 mengambil tema "Perayaan Sekaten 2009 Memperkokoh Semangat Kebersamaan Bagi Wong Yogya, Inspirasi untuk Wong Indonesia" yang akan digelar mulai 30 Januari hingga 9 Maret.
Untuk mengangkat unsur budaya dan potensi wilayah, maka pada PMPS 2009 tersebut akan disediakan panggung kesenian selama 14 hari yang akan diisi festival kesenian dari 14 kecamatan di Kota Yogyakarta dan grup-grup kesenian lain.
Sedangkan dari unsur nuansa agama juga tidak dilupakan yaitu dengan pengajian umum di Masjid Gedhe setiap Jumat malam, pengajian regol masjid Gedhe setiap malam setelah ’miyos gongso’, pengajian jelang zuhur setiap hari setelah ’miyos gongso’.
Perayaan Sekaten sendiri akan dimulai pada 2 Maret dimulai dengan keluarnya dua perangkat gamelan pusaka yaitu Kyai Gunturmadu dan Kyai Nogowilogo yang dikenal dengan ’miyos gongso’ dan selama tujuh hari berturut-turut di Pagongan Masjid Agung kedua gamelan itu dibunyikan.
Puncaknya terjadi pada 12 Maulud saat Sri Sultan HB X memberikan sedekah berupa Gunungan dalam upacara Grebeg Maulud. (ANT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang