Sudut-sudut Kenangan Widyawati

Kompas.com - 01/02/2009, 01:14 WIB

Lusiana Indriasari

Rumah menyimpan sejarah kehidupan penghuninya. Ketika orang yang dicintai lebih dulu berpulang, rumah menorehkan kenangan yang sulit untuk dilupakan.

Tidaklah mudah bagi Widyawati (58) bangkit dari kesedihan setelah suaminya Sophan Sophiaan meninggal dunia. Meski sudah delapan bulan berlalu, artis senior itu mengaku hampir setiap jam selalu teringat suaminya.

Rumah di Bintaro Sektor I, Tangerang, yang sudah ditempati Widyawati bersama suaminya selama 20 tahun kerap memunculkan kenangan itu. Sudut-sudut rumah yang dulu menjadi tempat pasangan itu bercengkerama selalu mengingatkan Widyawati kepada sosok suaminya.

”Mas Sophan kalau mencuci motor kesayangannya bisa sampai tiga jam. Saya selalu menemani sambil menghidangkan teh dan makanan kecil. Dia senang kalau ditemani mengobrol,” tutur Widyawati. Ia menunjuk areal terbuka di samping rumah yang dipakai Sophan mencuci mobil atau motor besarnya.

Meski masih berjuang keras melepaskan dari kesedihan karena kehilangan suami tercinta, Widyawati yang baru saja membintangi film Perempuan Berkalung Sorban ini tidak keberatan bercerita tentang rumahnya.

Tanpa sekat

Selasa (27/1) pagi Widyawati tampak anggun dengan balutan legging dan baju longgar berwarna coklat. Riasan sederhana membuat wajahnya tampak lebih muda dari umurnya.

Ia menyambut kami di rumahnya yang terdiri dari dua lantai. Luas rumah itu sekitar 400 meter persegi di atas tanah 575 meter persegi. Rumah bercat putih kombinasi coklat itu berada di sudut jalan kompleks.

Ada empat kamar tidur di rumah itu, tiga di lantai atas dan satu di lantai bawah. Ruang tidur di lantai bawah sekarang dipakai Romy (35), anak sulungnya. Setelah ayahnya meninggal, Romy memboyong istri dan dua anaknya pindah ke rumah Widayawati. Rumah Romy yang juga di Bintaro untuk sementara dikontrakkan.

”Saya masih sangat membutuhkan dukungan. Saya merasa sangat kesepian di rumah ini, tidak ada lagi suara Mas Sophan,” kata Widyawati. Bahkan, untuk tidur pun, ia meminta ditemani Roma (31), anak bungsunya yang memang tinggal di rumah itu.

Begitu masuk ke dalam rumah, terasa aliran udara sejuk masuk ke dalam rumah. Padahal, langit-langit rumah itu tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 2,5 meter dari lantai.

Ruangan di lantai satu tampak luas karena tidak terlalu banyak sekat. Ruang tamu menyatu dengan ruang santai. Sementara dari ruang santai itu bisa langsung terlihat ruang makan dan dapur di belakang rumah. Satu-satunya sekat hanya antara ruang tamu dan ruang makan.

Dansa di kamar

Setelah kedua anaknya dewasa, Widyawati dan Sophan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. ”Pusat kehidupan kami ada di kamar tidur. Mas Sophan utak-atik pekerjaan, menonton televisi, sampai makan semuanya dilakukan di kamar,” ungkap Widyawati.

Banyak kenangan manis dilalui Widyawati di kamar tidur berukuran 5 x 6 meter itu. Di kamar itu, setiap malam Sophan tidak pernah absen mengucap sayang dan mencium kening Widyawati menjelang tidur malam.

”Kami juga sering berdansa di dalam kamar,” ujar perempuan yang pada usia senjanya masih suka memakai sepatu hak tinggi.

Kalau dulu, setiap kali selesai berkegiatan di luar rumah, Widyawati selalu mendatangi suaminya di kamar. Setelah suaminya tidak ada, ia memilih mendatangi Julia (4) dan Jeima (4 bulan), dua cucu perempuannya, yang kini tinggal bersamanya. ”Mereka hiburan buat saya,” ujar Odi, sebutan sayang Julia kepada Widyawati.

Sophan sendiri yang merancang tata letak rumah tersebut. Menurut Widyawati, orang yang berkunjung ke rumahnya sering salah masuk. Tamu yang datang bukannya masuk ke ruang tamu, tetapi malah ke ruang duduk keluarga. Kami pun sama tersesatnya seperti tamu lain.

Tamu ”tersesat” karena pintu pagar yang menuju ke teras utama lebih sempit dibandingkan pintu pagar yang menuju garasi dan teras samping. ”Orang jadi mengira pintu utamanya adalah pintu samping itu,” kata Widyawati. Tetapi, dia tidak keberatan tamu-tamunya duduk di ruang keluarga, sementara ruang tamu malah menjadi tempat kumpul anak-anak dan cucunya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau