Kehadiran para eksekutif perusahaan raksasa dunia selalu mendominasi forum. Namun, pada tahun ini, kehadiran para politisi lebih mendominasi karena banyak eksekutif puncak yang tidak tampak.
Berbagai kantor berita menyebutkan bahwa di dalam forum tahun ini pandangan para eksekutif pun dicibirkan karena kredibilitas mereka ambruk total.
”Kehadiran elite politik dunia begitu membahana dan sebaliknya kehadiran eksekutif perbankan tidak menonjol,” kata Rainer Ohler, Senior Vice President Airbus SA. ”Kita kehilangan para eksekutif puncak perbankan,” kata Ohler.
Ini kontras dengan penyelenggaraan forum pada tahun-tahun sebelumnya di mana para kapten bisnis menjadi bintang-bintang.
Pemimpin News Corporation, Rupert Murdoch, menyebutkan, reputasi para eksekutif puncak memang sudah punah sejak September 2008 atau sejak kebangkrutan Lehman Brothers.
Tidak bisa memaafkan
Para pemimpin negara yang hadir di forum itu antara lain Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, PM China Wen Jiabao, PM Inggris Gordon Brown, PM Jepang Taro Aso, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden Meksiko Felipe Calderon. Ada 40 kepala negara yang hadir di Davos kali ini.
PM Brown mengatakan, dia tidak bermaksud menyerang individu-individu di perusahaan. ”Namun, jelas kita tidak bisa memberi penghargaan atau memaafkan tindakan tidak bertanggung jawab dan pengambilan risiko bisnis yang berlebihan,” kata PM Brown.
Reputasi korporasi keuangan dunia hancur karena mengucurkan triliunan dollar AS dana ke sektor perumahan AS, pemicu utama krisis global.
Karena itu, muncul seruan, yang terus diulang, bahwa sistem keuangan dunia memerlukan tatanan baru. PM Brown menegaskan kembali bahwa peran Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia sebagai pengawas keuangan dunia perlu dirombak.
Seruan ini selalu mental saat AS dipimpin George W Bush. Namun, kini, Presiden AS Barack Obama berjanji akan melakukan perombakan, terutama soal hak veto di dua lembaga keuangan dunia itu.
”Kita harus memiliki pemikiran yang jelas, ke mana kita kini akan melangkah, dengan tujuan agar krisis serupa tidak lagi terulang,” kata Merkel.
Uni Eropa gencar mengusulkan agar lembaga keuangan dunia diatur oleh sebuah lembaga yang punya otoritas global. Alasannya, pengelolaan krisis di dalam perusahaan sendiri tidak memadai untuk mencegah pengambilan keputusan soal bisnis yang buruk.
Beli produk AS
Sebagai negara yang paling terpukul dengan krisis, AS mengucurkan dana stimulus ekonomi berupa pemangkasan pajak dan peningkatan anggaran pengeluaran Pemerintah AS.
Namun, di samping itu, Presiden Obama juga mencanangkan stimulus baru bertema ”beli produk AS (buy American product)” mirip dengan reklame ”cintai produksi sendiri” yang beberapa waktu lalu gencar dilakukan Indonesia.
Karena itu, forum menyerukan agar krisis ini tidak mengulangi era merkantilisme di mana ekonomi dunia makin hancur karena aksi menutup diri terhadap impor.
”Kita kini menghadapi dua ancaman, yakni risiko keresahan sosial dan risiko bangkitnya proteksionisme,” kata Menteri Keuangan Perancis Christine Lagarde.
Tindakan AS dengan kampanye ”beli produk AS” dianggap berbahaya karena dilakukan oleh negara penyerap terbesar ekspor dunia. ”Proteksionisme adalah penyakit yang paling mudah menular,” kata Menteri Luar Negeri Brasil Celso Amorim.
Hal serupa pernah dilakukan AS pasca-Malaise 1929, yang justru makin mempercepat ekonomi dunia menuju kehancuran, yang baru bisa pulih sekitar 10 tahun kemudian. Tindakan proteksionisme juga dianggap membahayakan posisi berbagai negara eksportir dunia. (REUTERS/AP/AFP/MON)