Sultan Diyakini Tak Akan Mau Jadi Cawa pres

Kompas.com - 01/02/2009, 20:36 WIB

YOGYAKARTA, MINGGU- Sultan Hamengku Buwono X diyakini tidak akan bersedia maju sebagai calon wakil presiden meskipun diminati oleh partai politi besar seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Tawaran menjadi cawapres menunjukkan popularitas Sultan semakin melonjak sejak mendeklarasikan sebagai capres.

"Kita berpegang pada sabda pandita ratu (sabda raja), deklarasi Sultan adalah calon presiden. Bagi kami tidak mungkin sebagai raja, Sultan akan mencabut ucapannya sendiri," ungkap Bondan Nusantara, Wakil Sekretaris Jenderal Merti Nusantara, Minggu (1/2) di Yogyakarta. Merti Nusanatara adalah organi sasi massa pendukung pencapresan Sultan HB X. Merti Nusantara yang saat ini sudah memiliki setidaknya 2.002 kepengurusan tingkat kecamatan di 350 kabupaten dari 33 provinsi ini aktif mengggalang dukungan masyarakat untuk Sultan.

Meski demikian, Bondan mengakui berbagai kemungkinan masih akan muncul setelah pemilu legislatif April nanti, termasuk apakah nantinya Sultan tetap menjadi capres atau malah berubah menjadi cawapres.

Pihaknya menghargai dialog dan proses-proses politik yang terjadi. "Kami tidak menafikan dialog politik itu (Sultan sebagai cawapres). Itu justru menunjukan Sultan banyak diminati parpol," katanya.

Walau menghormati proses politik yang terjadi seperti sinyal PDI-P yang ingin memasangkan Sultan menjadi pendamping capres PDI-P Megawati Soekarno Putri, Bondan mengatakan, dukungan Merti Nusantara adalah Sultan sebagai capres.

Menurut Bondan, organisasi tersebut lahir sukarela karena ada deklarasi capres Sultan. "Teman-teman di daerah mengatakan, kami dukung Sultan karena capres," ucapnya.

Saat menjamu makam malam Megawati dan Taufik Kiemas di Keraton Yogyakarta pekan lalu, Sultan yang dimintai komentar tentang keinginan PDI-P menjadikannya cawapres, kembali menegaskan deklarasinya adalah capres.

Silaturahim Merti

Diakui Bondan, saat ini muncul berbagai pertanyaan dari pengurus Merti Nusantara di tingkat bawah terkait maraknya berita Sultan sebagai cawapres. Untuk itu pihaknya akan menggelar silaturahim pengurus Merti Nusantara tingkat kecamatan di Pulau Jawa, Senin (2/2) di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada.

Acara yang akan dihadiri sekitar 3.000 orang itu juga diikuti para pengurus Merti Nusantara tingkat kabupaten dan provinsi dari seluruh Indonesia. Acara akan dirangkai dengan ziarah ke makam Sultan HB IX untuk meminta restu bagi langkah Sultan HB X sekaligus ke makam Sultan Agung di Imogiri untuk berdoa bagi keselamatan bangsa.

"Dalam pertemuan itu kita akan tampung aspirasi para pengrus kecamatan untuk selanjutnya kita sampaikan ke Sultan," kata Puguh Jaka Sulistya Ketua Komite Jawa Merti Nusantara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau