YERUSALEM, SENIN - Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengancam melakukan pembalasan "tidak sepadan" atas penembakan mortir dan roket yang terus berlangsung ke wilayah negara Yahudi tersebut dari Jalur Gaza yang dikuasai Hamas. Tak lama setelah Olmert menyampaikan hal itu, tiga warga Israel cedera akibat serangan mortir.
Ketiga korban itu terdiri dari dua prajurit dan warga sipil pertama Israel yang cedera sejak gencatan senjata 18 Januari mengakhiri operasi militer Israel terhadap wilayah kantung pesisir itu. Dua roket menghantam Israel selatan sebelumnya Minggu (1/2), namun tidak ada kerusakan atau korban.
Sebuah sayap Brigade Syuhada Al-Aqsa, kelompok yang menjadi bagian dari Fatah kubu Presiden Palestina Mahmud Abbas, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Sementara belum ada pihak yang mengaku melakukan penembakan mortir yang melukai ketiga orang Israel itu.
"Sikap pemerintah sejak awal adalah jika terjadi penembakan terhadap penduduk di wilayah (Israel) selatan, maka akan ada pembalasan keras yang tidak akan sepadan," kata Olmert pada pertemuan mingguan kabinet. "Kami akan bertindak sesuai dengan aturan-aturan baru yang akan memastikan bahwa kami tidak akan terseret ke dalam perang penembakan tanpa henti di perbatasan selatan, yang akan membuat penduduk wilayah selatan tidak bisa menjalani kehidupan normal," kata PM Israel itu tanpa penjelasan lebih lanjut.
Seorang juru bicara pemerintah Hamas di Jalur Gaza mengecam apa yang disebutnya "pernyataan agresif" Olmert. Namun, juru bicara itu, Taher al-Nono, juga mendesak semua kelompok Palestina "menghormati konsensus nasional" mengenai gencatan senjata yang diumumkan Hamas dua pekan lalu setelah Israel menyatakan menghentikan ofesif terhadap Gaza.
Israel dikecam masyrakat internasional atas korban tewas dari serangan militernya di Gaza. Pasukan Israel meninggalkan Jalur Gaza setelah daerah pesisir itu hancur operasi militer selama 22 hari. Mereka menyelesaikan penarikan pasukan dari wilayah yang dikuasai Hamas itu Rabu (21/1).
Jumlah korban tewas Palestina mencapai sedikitnya 1.300, termasuk lebih dari 400 anak. Sementara 5.300 orang cedera di Gaza sejak Israel melancarkan operasi militer terhadap Hamas pada 27 Desember.
Di pihak Israel, hanya tiga warga sipil dan 10 prajurit tewas dalam pertempuran dan serangan roket itu. Selama perang 22 hari itu, sekolah, rumah sakit, bangunan PBB dan ribuan rumah hancur terkena gempuran Israel, dan Pemerintah Palestina menyatakan jumlah kerugian prasarana mencapai 476 juta dolar.