BOJONEGORO, SENIN - Genangan banjir akibat luapan air Bengawan Solo di daerah hilir Bojonegoro, Jawa Timur, semakin meluas. "Di daerah Ngawi, kemarin malam terjadi hujan deras mengakibatkan bertambahnya volume luapan air," kata petugas piket banjir Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, Suyono, Senin.
Di Ndungus, Ngawi, ketinggian air pada papan duga di Bengawan Solo, kembali bertambah menjadi 8,50 meter (siaga III) pada pukul 05.00 WIB yang semula 8,30 m pukul 24.00 WIB.
Padahal ketinggian air di Karangnongko, Kecamatan Ngraho -- sekitar 70 km dari Kota Bojonegoro -- sempat turun dari 29,43 m pukul 24.00 WIB menjadi 29,38 m pada pukul 05.00 WIB.
Menurut Yono, meningkatnya air banjir di Ngawi ditambah air dari Bengawan Solo, di Jurug, Solo masih akan menambah debit banjir di daerah hilir, Bojonego. "Banjir di Bojonegoro masih akan bertambah," katanya.
Senin pagi ini, ketinggian air pada papan duga di Bojonegoro masih terus meningkat mencapai 14,71 m pukul 05.00 WIB. Di Bojonegoro, genangan air banjir mulai merendam ribuan hektare areal pertanian dan ribuan rumah warga di sedikitnya 49 desa yang tersebar di 13 kecamatan di antaranya Kecamatan Margomulyo, Padangan, Puswosari, Kalitidu, Trucuk, Kota, Balen, Kapas, Kanor dan Baureno.
Siti, seorang petani di Desa Tulungrejo, Kecamatan Trucuk, menyatakan di desanya para petani baru saja menabur benih tetapi semuanya rusak akibat terendam air. "Sepekan lalu saya menebar 25 kg benih padi, sekarang rusak semua," katanya.
Petani lainnya di Desa Ngablak, Kecamatan Dander, Achmad Suyitono (45) menyatakan, ratusan hektare areal tanaman padi di desa setempat dengan usia sekitar 40 hari terendam air sejak sehari yang lalu.
Para petani memperkirakan kalau genangan air banjir berlangsung tiga hari lebih, maka tanaman padinya akan rusak. "Semua tanaman padi di daerah kami sudah terendam air, petani hanya berharap banjir cepat surut," katanya.
Di Desa Ngablak, sejak kemarin ratusan warga mulai mengungsikan sepeda motornya mencari tempat yang aman di luar tanggul Bengawan Solo di Desa Ngulanan, juga di Kecamatan Dander.
Seorang warga Desa Ngablak, Kecamatan Dander, Ayik menyatakan, dua sepeda motor dan satu kendaraan roda empat miliknya sudah diamankan karena permukiman di desanya sudah mulai terendam banjir setinggi lutut orang dewasa.
Selain itu, warga juga mulai membuat tenda darurat di sepanjang tanggul Bengawan Solo untuk mengamankan ternaknya. "Kami mengungsi kalau air banjir semakin tinggi," kata Ayik yang dibenarkan Mudji (55), warga lainnya yang sedang mengungsikan sapinya.
Komandan Satgas Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Pudjiono mengemukakan, kondisi banjir luapan Bengawan Solo di daerah hilir Bojonegoro, relatif terkendali.
Sebab datangnya air tidak secara mendadak tetapi perlahan-lahan. Meski demikian, kewaspadaan tetap dilakukan mengingat ketinggian air di Bojonegoro masih terus merambat naik.