SEKITAR 19,4 persen anak balita di Jawa Barat terancam kebutaan akibat kekurangan vitamin A. Untuk menghindari hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan kembali melaksanakan Gerakan Pemberian Vitamin A.
Kepala Dinas Kesehatan Jabar Alma Lucyati mengatakan, kebutaan bisa terjadi apabila anak balita menderita kekurangan vitamin A dalam jangka waktu yang lama. ”Kekurangan vitamin A juga membuat anak balita menderita dampak yang lebih parah ketika terserang penyakit lain, seperti diare dan campak,” kata Alma, akhir pekan lalu.
Vitamin A memang bisa didapatkan dari asupan makanan sehari-hari, antara lain melalui konsumsi sayur dan buah. Namun, Alma mengatakan, intervensi pemberian vitamin A tetap penting dilakukan sebab asupan gizi dari makanan sehari-hari belum tentu mencukupi, apalagi berdasarkan survei Departemen Kesehatan, konsumsi orang Indonesia terhadap buah dan sayur masih rendah.
Alma menambahkan, seorang anak balita disebut kekurangan vitamin A jika kandungan serum retinol dalam darahnya kurang dari 20 mikrogram/desiliter.
”Berdasarkan standar WHO, kekurangan vitamin A sebanyak 15 persen dari populasi anak balita sudah merupakan masalah. Padahal, berdasarkan survei nasional tahun 2006, di Jabar masih ada 19,4 persen anak balita yang kekurangan vitamin A,” papar Alma.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, tahun ini Jabar memiliki 462.363 bayi berusia 6-11 bulan dan 3.126.133 anak balita berusia 12 bulan-5 tahun. (LSD)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang