KUPANG, SELASA - Wakapolres Flores Timur, Kompol Mantje Diaz Alfi, Selasa, membantah rumor tentang adanya upaya masyarakat yang akan menyegel sekretariat dan menyandera anggota KPU setempat jika pemilu legislatif tetap dilaksanakan 9 April 2009 yang bertepatan dengan Hari Kamis Putih.
Ia mengatakan seluruh elemen masyarakat dan pemuka agama serta Pemerintah Kabupaten Flores Timur sedang mengupayakan agar pemilu legislatif pada 9 April 2009 dimajukan atau diundur karena bertepatan dengan Hari Kamis Putih yang diyakini umat Katolik se-dunia sebagai perjamuan malam terakhir antara Yesus Kristus dengan murid-murid-Nya sebelum wafat di kayu salib.
Bagi umat Katolik di Flores Timur, katanya Selasa, Hari Kamis Putih merupakan hari keagamaan yang sangat sakral sehingga tidak boleh terkontaminasi kegiatan apapun. Sehingga, masyarakat menghendaki agar pemilu legislatif dimajukan atau diundur dari waktu pelaksanaan 9 April 2009.
"Umat Muslim dan umat agama lain di Flores Timur juga menghendaki agar pemilu legislatif dimajukan atau diundur agar tidak mengganggu kekhusukan umat Nasrani dalam menjalankan ibadah, tetapi tidak ada niat untuk menyegel sekretariat dan menyandera anggota KPU setempat seperti rumor yang berkembang saat ini," katanya menegaskan.
Secara terpisah, mantan anggota DPRD NTT dari Partai Bulan Bintang (PBB), Arief Rachman mengungkapkan, sebagian besar masyarakat Flores Timur berencana menyegel Sekretariat KPU dan menyandera anggota KPU Flores Timur jika pemilu legislatif tetap dilaksanakan pada 9 April 2009 yang bertepatan dengan Hari Kamis Putih.
"Sebagai Muslim, saya tidak sependapat jika pemilu legislatif tetap dilaksanakan pada 9 April 2009 karena bertepatan dengan Hari Kamis Putih. Kegiatan politik bisa dimajukan atau diundur, tetapi perayaan keagamaan tidak bisa ditunda, karena Kamis Putih sangat sakral bagi umat Katolik," katanya.
Wakil Ketua DPRD Flores Timur, Markus Suban Bethan mengatakan, dalam waktu dekat pimpinan DPRD dan Pemkab Flores Timur akan berdialog dengan KPU Pusat di Jakarta guna membicarakan pelaksanaan pemilu legislatif karena bertepatan dengan Hari Kamis Putih.
"Hari Kamis Putih merupakan rangkaian dari Semana Santa (Pekan Suci) sampai Hari Raya Paskah pada 12 April 2009. Ini sebuah tradisi keagamaan dalam Gereja Katolik yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh umat Katolik. Kami akan terus melakukan komunikasi dengan KPU agar mereka mempertimbangkan aspirasi ummat ini," kata Bethan.
Wakil Bupati Flores Timur Yoseph Laga Doni Herin yang dihubungi secara terpisah juga membenarkan bahwa dalam waktu dekat pihaknya bersama pimpinan dewan dan pemuka agama dan masyarakat Flores Timur akan bertemu dengan KPU Pusat di Jakarta guna membicarakan masalah tersebut.
"Kita mengupayakan agar kegiatan politik kenegaraan dan pelaksanaan hari raya keagamaan jangan sampai mengorbankan masyarakat yang nota bene adalah juga umat beragama," katanya.
Sebelumnya, Ketua DPRD NTT Melkianus Adoe dan pimpinan dewan lainnya sudah berdialog dengan KPU Pusat di Jakarta untuk membicarakan masalah tersebut. Namun belum mencapai kata sepakat soal usul NTT agar pemilu legislatif dimajukan atau diundur.
Bupati Flores Timur, Simon Hayon juga sudah meminta KPU NTT untuk mempertimbangkan pelaksanaan pemilu legislatif tersebut, karena sangat mengganggu ziarah rohani umat Nasrani di Flores Timur dalam masa pekan suci (Semana Santa) sampai Hari Raya Paskah.
Ketua KPU NTT John Depa mengatakan, dalam upaya mengatasi masalah tersebut, langkah-langkah yang diambil pihaknya antara lain memperbanyak tempat pemungutan suara (TPS) guna mempercepat proses pemungutan dan penghitungan suara.
"Kami hanya bisa mengantisipasi dengan langkah-langkah tersebut, karena kami bukan pemegang otoritas dalam menentukan pelaksanaan pemilu. Kami hanyalah bagian dari KPU Pusat yang hanya melaksanakan tugas sesuai aturan yang digariskan oleh KPU," katanya.