Flores Timur Persoalkan Pemilu di Hari Kamis Putih

Kompas.com - 03/02/2009, 10:27 WIB

KUPANG, SELASA - Wakapolres Flores Timur, Kompol Mantje Diaz Alfi, Selasa, membantah rumor tentang adanya upaya masyarakat yang akan menyegel sekretariat dan menyandera anggota KPU setempat jika pemilu legislatif tetap dilaksanakan 9 April 2009 yang bertepatan dengan Hari Kamis Putih.
    
Ia mengatakan seluruh elemen masyarakat dan pemuka agama serta Pemerintah Kabupaten Flores Timur sedang mengupayakan agar pemilu legislatif pada 9 April 2009 dimajukan atau diundur karena bertepatan dengan Hari Kamis Putih yang diyakini umat Katolik se-dunia sebagai perjamuan malam terakhir antara Yesus Kristus dengan murid-murid-Nya sebelum wafat di kayu salib.
    
Bagi umat Katolik di Flores Timur, katanya Selasa, Hari Kamis Putih merupakan hari keagamaan yang sangat sakral sehingga tidak boleh terkontaminasi kegiatan apapun. Sehingga, masyarakat menghendaki agar pemilu legislatif dimajukan atau diundur dari waktu pelaksanaan 9 April 2009.
    
"Umat Muslim dan umat agama lain di Flores Timur juga menghendaki agar pemilu legislatif dimajukan atau diundur agar tidak mengganggu kekhusukan umat Nasrani dalam menjalankan ibadah, tetapi tidak ada niat untuk menyegel sekretariat dan menyandera anggota KPU setempat seperti rumor yang berkembang saat ini," katanya menegaskan.
    
Secara terpisah, mantan anggota DPRD NTT dari Partai Bulan Bintang (PBB), Arief Rachman mengungkapkan, sebagian besar masyarakat Flores Timur berencana menyegel Sekretariat KPU dan menyandera anggota KPU Flores Timur jika pemilu legislatif tetap dilaksanakan pada 9 April 2009 yang bertepatan dengan Hari Kamis Putih.
    
"Sebagai Muslim, saya tidak sependapat jika pemilu legislatif tetap dilaksanakan pada 9 April 2009 karena bertepatan dengan Hari Kamis Putih. Kegiatan politik bisa dimajukan atau diundur, tetapi perayaan keagamaan tidak bisa ditunda, karena Kamis Putih sangat sakral bagi umat Katolik," katanya.
    
Wakil Ketua DPRD Flores Timur, Markus Suban Bethan mengatakan, dalam waktu dekat pimpinan DPRD dan Pemkab Flores Timur akan berdialog dengan KPU Pusat di Jakarta guna membicarakan pelaksanaan pemilu legislatif karena bertepatan dengan Hari Kamis Putih.
    
"Hari Kamis Putih merupakan rangkaian dari Semana Santa (Pekan Suci) sampai Hari Raya Paskah pada 12 April 2009. Ini sebuah tradisi keagamaan dalam Gereja Katolik yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh umat Katolik. Kami akan terus melakukan komunikasi dengan KPU agar mereka mempertimbangkan aspirasi ummat ini," kata Bethan.
    
Wakil Bupati Flores Timur Yoseph Laga Doni Herin yang dihubungi secara terpisah juga membenarkan bahwa dalam waktu dekat pihaknya bersama pimpinan dewan dan pemuka agama dan masyarakat Flores Timur akan bertemu dengan KPU Pusat di Jakarta guna membicarakan masalah tersebut.
    
"Kita mengupayakan agar kegiatan politik kenegaraan dan pelaksanaan hari raya keagamaan jangan sampai mengorbankan masyarakat yang nota bene adalah juga umat beragama," katanya.
    
Sebelumnya, Ketua DPRD NTT Melkianus Adoe dan pimpinan dewan lainnya sudah berdialog dengan KPU Pusat di Jakarta untuk membicarakan masalah tersebut. Namun belum mencapai kata sepakat soal usul NTT agar pemilu legislatif dimajukan atau diundur.
    
Bupati Flores Timur, Simon Hayon juga sudah meminta KPU NTT untuk mempertimbangkan pelaksanaan pemilu legislatif tersebut, karena sangat mengganggu ziarah rohani umat Nasrani di Flores Timur dalam masa pekan suci (Semana Santa) sampai Hari Raya Paskah.
    
Ketua KPU NTT John Depa mengatakan, dalam upaya mengatasi masalah tersebut, langkah-langkah yang diambil pihaknya antara lain  memperbanyak tempat pemungutan suara (TPS) guna mempercepat proses pemungutan dan penghitungan suara.
    
"Kami hanya bisa mengantisipasi dengan langkah-langkah tersebut, karena kami bukan pemegang otoritas dalam menentukan pelaksanaan pemilu. Kami hanyalah bagian dari KPU Pusat yang hanya melaksanakan tugas sesuai aturan yang digariskan oleh KPU," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau