Massa Sempat Lempari Azis Pakai Gelas

Kompas.com - 03/02/2009, 14:33 WIB

MEDAN, SELASA — Ketua DPRD Sumatera Utara H Abdul Azis Angkat meninggal dunia dalam sebuah aksi unjuk rasa anarkis yang digelar para pendukung pembentukan Provinsi Tapanuli yang berlangsung di Gedung DPRD Sumut di Medan, Selasa (3/2).
    
Azis sempat dilarikan ke Rumah Sakit Glen Eagles Medan dengan menggunakan truk pemburu preman milik Poltabes Medan, tetapi nyawanya tidak tertolong.
    
Peristiwa bermula ketika sekitar 1.000 massa pendukung Provinsi Tapanuli mendatangi Gedung DPRD Sumut sekitar pukul 10.00. Setelah beberapa saat berorasi di luar gedung, mereka kemudian merangsek ke ruangan rapat paripurna.
    
Ketika itu tengah berlangsung rapat paripurna dengan agenda pembahasan Ranperda Pengelolaan Keuangan Daerah yang dipimpin langsung oleh Azis Angkat.
    
Sekitar pukul 10.33 Azis yang baru saja membuka rapat paripurna langsung menskors rapat ketika massa berhasil menerobos masuk. Para pimpinan dewan, termasuk Azis Angkat dan Sekdaprov Sumut RE Nainggolan, terpaksa diungsikan ke ruang pimpinan yang persis berada di belakang ruangan paripurna.

Massa yang beringas membawa sebuah peti mati ke dalam ruangan rapat paripurna. Mereka juga membawa spanduk dan poster-poster yang berisi tuntutan mereka terhadap pembentukan Provinsi Tapanuli. Secara bergantian mereka juga melakukan orasi.
    
Sekitar pukul 11.30, dengan dikawal aparat kepolisian, Azis Angkat kemudian diungsikan ke ruangan Fraksi Partai Golkar yang terletak di lantai dasar gedung Dewan.
    
Kejadian itu mendapat aksi penentangan dari massa yang kemudian melempari rombongan polisi yang membawa Azis Angkat dengan berbagai macam benda, termasuk dengan gelas-gelas yang terdapat di atas meja para anggota dewan.
    
Tidak cukup sampai di situ, Azis Angkat terus diikuti massa sampai ke ruangan Fraksi Partai Golkar. Di tempat itu ia mendapat caci maki, ditarik-tarik, dan bahkan harus menerima perlakuan tidak pantas dari sejumlah pengunjuk rasa tanpa ada yang bisa menghalangi.

Diduga tak kuat menahan serangan, Azis Angkat pun terkapar dan kemudian dilarikan ke rumah sakit. Proses evakuasi sendiri tidak berjalan dengan lancar.

Sebanyak delapan staf DPRD Sumut yang mengangkat tubuh Azis untuk dibawa ke rumah sakit sempat dihalang-halangi massa. Mereka bahkan menuding Azis pura-pura sakit.
    
Di tengah aksi massa yang mencoba menghalangi, dengan susah payah tubuh Azis Angkat berhasil dinaikkan ke truk pemburu preman yang tengah parkir di halaman samping gedung Dewan. Truk polisi tersebut bahkan juga tidak bisa langsung keluar gedung dewan karena terus dihalangi massa.
    
Petugas Rumah Sakit Glen Eagles Internasional sempat berupaya memberikan pertolongan, tetapi sudah terlambat, nyawa Azis Angkat tidak bisa diselamatkan. "Ini sudah terlambat," ujar seorang petugas di rumah sakit itu.
    
Azis Angkat yang juga Sekretaris DPD Partai Golkar Sumut itu dilantik menjadi Ketua DPRD Sumut pada 27 November 2008. Ia menggantikan H Abdul Wahab Dalimunthe yang mengundurkan diri karena maju menjadi caleg dari Partai Demokrat.
    
Sebelum berkiprah di Partai Golkar, politisi kelahiran 10 Januari 1958 itu tercatat sebagai dosen di Universitas Negeri Medan. Pendidikan S-2 suami Turnalis Siregar itu diraihnya di Universitas Sumatera Utara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau