BANYUMAS, SELASA - Posisi Banyumas sebagai daerah transit, wisata, serta pusat bisnis dan jasa menjadikan daerah ini memiliki tingkat kerentanan yang tinggi menyebarkan virus HIV. Ini terl ihat dari data 253 kasus HIV di wilayah ini yang sebagian besar terjadi di enam kecamatan yang merupakan kawasan perlintasan, wisata, dan pusat jasa.
Enam kecamatan tersebut adalah Kecamatan Baturraden, empat kecamatan di Purwokerto, dan Wangon. Dari tahun ke tahun, ditemukan jumlah kasus HIV/AIDS di kawasan tersebut terus meningkat.
Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banyumas, Kristin Lestari, Selasa (3/2), mengungkapkan, Banyumas saat menjadi daerah perlintasan utama di Jateng bagian barat. Banyak terminal dan kendaraan angkutan yang melalui dan transit daerah ini.
Di Wangon, misalnya, menjadi persimpangan bagi masyarakat yang menuju Bandung, Cilacap, dan Yogyakarta. Daerah ini selalu menjadi persinggahan sementara para sopir angkutan barang ataupun manusia.
Persinggahan ini menjadi rentan karena kemudian ada interaksi, khususnya dengan sopir truk. Penularan bisa melalui hubungan seks. Selain itu, tempat persinggahan juga menimbulkan terjadinya pergaulan dan pengaruh budaya luar. "Ini terbukti banyak kasus HIV/AIDS di Wangon karena melalui jarum suntik narkoba," tutur Kristin.
Di Baturraden banyak terjadi penularan karena di wilayah itu menjadi pusat prostitusi di Banyumas. Penularan menjadi semakin cepat dengan kurangnya kesadaran dalam penggunaan kondom oleh tamu saat kencan dengan pekerja seks komersial di kawasan ini.
Penularan HIV AIDS kawasan prostitusi relatif tinggi ditunjukkan dengan tingginya persentase untuk hubungan heteroseksual sebagai penyebab penularan HIV/AIDS yang mencapai 56 persen. Angka tersebut melebihi faktor lain seperti penggunaan jarum suntik sebesar 30 persen, hubungan homoseksual 8 persen, dan transfusi darah 3 persen.
Kota Purwokerto, sebagai ibukota Kabupaten Banyumas dalam beberapa tahun terakhir berkembang cuku p pesat. Kota ini menjadi pusat jasa dan pendidikan. Tak pelak, banyak pendatang hadir di kota ini. Budaya luar, seperti penggunaan narkoba pun merebak, salah satunya di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Data yang dihimpun KPA Banyumas, 12 persen dari 253 kasus HIV di Banyumas terjadi di kalangan pelajar/mahasiswa. "Mahasiswa dan pelajar rentan terhadap penularan HIV, terutama dengan merebaknya penggunaan narkoba suntik," ungkap dia.
Diperkirakan, angka 253 kasus HIV di Banyumas tersebut hanya dipermukaa n. Menurut Kepala Markas PMI Banyumas, Sutoro, pada awal Januari lalu PMI Banyumas menemukan 72 kantong darah yang terinfeksi HIV. Darah-darah tersebut berasal dari pendonor. Sayangnya, tak semua pendonor dapat diidentifikasi.
PMI saat ini kekurangan anggaran untuk mengadakan pengolahan darah. Operasional tes juga makin mahal. Seandainya, tes darah ini dapat kami optimalkan, sebernarnya akan lebih banyak kasus yang bisa ditemukan, tandas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang