198 Manusia Perahu Diselamatkan di Aceh

Kompas.com - 04/02/2009, 05:16 WIB

 

 

ACEH TIMUR, SELASA - Sebanyak 198 orang Rohingya asal Myanmar yang terombang-ambing di lautan selama 21 hari tanpa makanan dan minuman diselamatkan nelayan asal Kuala Idi, Aceh Timur, Senin (2/2) sekitar pukul 14.00 di perairan Selat Malaka.

Orang-orang Rohingya ini menumpang sebuah perahu tanpa mesin berukuran panjang 13 meter dan lebar 4 meter. Oleh kapal nelayan Sepakat, perahu pengungsi Rohingya tersebut kemudian ditarik menuju Pos Keamanan Laut Kuala Idi.

”Kami menemukan mereka di tengah laut sekitar pukul 14.00 hari Senin dan baru sampai ke daratan sekitar hari Selasa pukul 02.00,” ujar Abu Bakar, nelayan yang ikut menyelamatkan orang- orang Rohingya itu.

Sebelumnya, 193 orang Rohingya juga terdampar di Sabang dan hingga kini masih dalam penyelidikan.

Saat ditemukan, orang-orang Rohingya tersebut terlihat sangat letih dan lemas. Bahkan, 21 orang di antaranya langsung menceburkan diri ke laut begitu melihat kapal nelayan di dekatnya. Mereka berenang ke arah kapal nelayan untuk meminta makanan dan minuman.

”Kondisi mereka sangat mengenaskan saat kami temukan,” kata Abu Bakar.

Menurut seorang manusia perahu, Rahmat, mereka adalah bagian dari ratusan orang Rohingya yang sengaja dibuang ke tengah laut oleh aparat Thailand. Rahmat menuturkan, orang-orang ini sebenarnya imigran ilegal di Thailand. Mereka ditangkap aparat Thailand dan ditahan di pulau di perairan Andaman.

”Kami tak tahan dengan perlakuan Pemerintah Myanmar. Mereka tak memperbolehkan kami bekerja selain sebagai nelayan, petani, dan menebang pohon. Kami terpaksa mencari pekerjaan ke luar Myanmar,” katanya. Ada 22 orang yang meninggal selama 21 hari mereka terombang-ambing di lautan.

Asisten III Bidang Kesejahteraan Sosial Pemerintah Kabupaten Aceh Timur Abdul Munir saat dihubungi dari Banda Aceh mengatakan, Pemkab Aceh Timur telah memberikan bantuan bahan makanan dan tempat penampungan sementara.

Di Jakarta, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan, keputusan soal nasib manusia perahu itu akan diketahui setelah penyelidikan mengenai asal dan motif mereka selesai dilaksanakan. Faiza tidak memberikan tenggat selesainya penyelidikan.

”Dengan semakin banyaknya aliran manusia perahu, persoalan ini harus dibahas dalam satu forum. Kemungkinan kami akan menggunakan forum Bali Process untuk membahas solusinya,” katanya. (bil/mhd/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau