JAKARTA, RABU — Sewindu Provinsi Gorontalo, Rabu (4/2), dipusatkan peringatannya di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selain menggelar Pameran Pembangunan, gambaran tentang potensi, investasi, dan keberhasilan pembangunan, juga diluncurkan film Fadel Muhammad Mengabdi untuk Indonesia, sekaligus diskusi film.
Film dokumenter yang disutradarai Rizaldi Siagian itu merekam pemikiran Fadel Muhammad, pengalaman, dan tantangan yang dihadapinya sebagai Gubernur Provinsi Gorontalo, terutama dalam memperjuangkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat di daerah berpenduduk sekitar satu juta jiwa itu. Film berdurasi 45 menit itu memperlihatkan potensi kekayaan budaya rakyat Gorontalo sebagai bagian yang juga menjadi titik perhatian Fadel sebagai individu yang menganut dan menghargai paham pluralisme dalam kebudayaan.
Dalam film itu juga dikutip pernyataan sejumlah tokoh, Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama, misalnya mengatakan, "Ketika (Fadel Muhammad) terjun dalam politik dan ikut serta dalam pemilihan Gubernur Provinsi Gorontalo, bukan saja memenangkan, tetapi berhasil. Berhasil berkat jagung, berhasil berkat sapi, berhasil berkat kepedulian terhadap pegawai, pejabat, apalagi yang kecil. Juga mencoba menerapkan dalam lingkungan konkret daerah bahwa paham ekonomi pasar sosial bisa dilaksanakan. Kalau di Gorontalo bisa, kenapa tidak di provinsi-provinsi lain?"
Dalam diskusi seusai pemutaran film, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, walaupun film berjudul Fadel Muhammad Mengabdi untuk Indonesia, untung tak ada pun satu kalimat yang mengatakan Fadel Muhammad siap menjadi calon presiden.
"Meski demikian, pernyataan Fadel pada diskusi mengisyaratkan bahwa keberhasilannya membangun Gorontalo selama delapan tahun belakangan ingin dipraktikkan ke wilayah yang luas, Indonesia. Jika Gorontalo adalah laboratorium, Indonesia mini, maka keberhasilan uji labor perlu diterapkan untuk wilayah yang luas," katanya.
Sebelumnya, pada pembukaan pameran, Fadel sempat melukiskan perkembangan pesat APBD. Jika tahun 2001 APBD Gorontalo hanya Rp 73,38 miliar, maka tahun 2005 naik menjadi Rp 268 miliar. Bahkan, tahun 2009, APBD Gorontalo mencapai Rp 4,2 triliun.
Menurut ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sri Adiningsih, keberhasilan Fadel Muhammad membangun Gorontalo karena keluar dari pakem, banyak program inovatif.
Fadel menggarisbawahi bahwa ia tidak sendiri membangun Gorontalo. "Saya punya tim yang kuat dan saya ubah cara berpikir mereka. Keberhasilan juga karena meletakkan fondasi pembangunan manusia sebagai salah satu fokus pembangunan (program unggulan)," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang