Fadel Muhammad "Kampanye" Lewat Film

Kompas.com - 04/02/2009, 20:34 WIB

JAKARTA, RABU — Sewindu Provinsi Gorontalo, Rabu (4/2), dipusatkan peringatannya di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selain menggelar Pameran Pembangunan, gambaran tentang potensi, investasi, dan keberhasilan pembangunan, juga diluncurkan film Fadel Muhammad Mengabdi untuk Indonesia, sekaligus diskusi film.

Film dokumenter yang disutradarai Rizaldi Siagian itu merekam pemikiran Fadel Muhammad, pengalaman, dan tantangan yang dihadapinya sebagai Gubernur Provinsi Gorontalo, terutama dalam memperjuangkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat di daerah berpenduduk sekitar satu juta jiwa itu. Film berdurasi 45 menit itu memperlihatkan potensi kekayaan budaya rakyat Gorontalo sebagai bagian yang juga menjadi titik perhatian Fadel sebagai individu yang menganut dan menghargai paham pluralisme dalam kebudayaan.

Dalam film itu juga dikutip pernyataan sejumlah tokoh, Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama, misalnya mengatakan, "Ketika (Fadel Muhammad) terjun dalam politik dan ikut serta dalam pemilihan Gubernur Provinsi Gorontalo, bukan saja memenangkan, tetapi berhasil. Berhasil berkat jagung, berhasil berkat sapi, berhasil berkat kepedulian terhadap pegawai, pejabat, apalagi yang kecil. Juga mencoba menerapkan dalam lingkungan konkret daerah bahwa paham ekonomi pasar sosial bisa dilaksanakan. Kalau di Gorontalo bisa, kenapa tidak di provinsi-provinsi lain?"

Dalam diskusi seusai pemutaran film, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, walaupun film berjudul Fadel Muhammad Mengabdi untuk Indonesia, untung tak ada pun satu kalimat yang mengatakan Fadel Muhammad siap menjadi calon presiden.

"Meski demikian, pernyataan Fadel pada diskusi mengisyaratkan bahwa keberhasilannya membangun Gorontalo selama delapan tahun belakangan ingin dipraktikkan ke wilayah yang luas, Indonesia. Jika Gorontalo adalah laboratorium, Indonesia mini, maka keberhasilan uji labor perlu diterapkan untuk wilayah yang luas," katanya.

Sebelumnya, pada pembukaan pameran, Fadel sempat melukiskan perkembangan pesat APBD. Jika tahun 2001 APBD Gorontalo hanya Rp 73,38 miliar, maka tahun 2005 naik menjadi Rp 268 miliar. Bahkan, tahun 2009, APBD Gorontalo mencapai Rp 4,2 triliun.

Menurut ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sri Adiningsih, keberhasilan Fadel Muhammad membangun Gorontalo karena keluar dari pakem, banyak program inovatif.

Fadel menggarisbawahi bahwa ia tidak sendiri membangun Gorontalo. "Saya punya tim yang kuat dan saya ubah cara berpikir mereka. Keberhasilan juga karena meletakkan fondasi pembangunan manusia sebagai salah satu fokus pembangunan (program unggulan)," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau