Waspadai Calo Kartu Gakin

Kompas.com - 05/02/2009, 05:32 WIB
JAKARTA, RABU — Pasien RSU Cengkareng, Jakarta Barat, diminta mewaspadai penipuan dan pemerasan oleh calo pengurus kartu keluarga miskin (Gakin) atau surat keterangan tidak mampu (SKTM). Modusnya, mereka mengaku bisa menyediakan dokumen itu dengan imbalan uang.

Manajer Medis Rumah Sakit Umum (RSU) Cengkareng Budiman Widjaja yang ditemui Rabu (4/2) menjelaskan, manajemen rumah sakit beberapa kali mendapati calo yang beroperasi di rumah sakit.

”Kami pernah menangkap dua calo dan diserahkan ke Polsek Cengkareng. Namun, proses hukum sulit diterapkan karena para pasien dan keluarga enggan memberikan kesaksian ke polisi. Selain itu, ketiadaan barang bukti membuat proses hukum sulit dilakukan,” kata Budiman.

Setelah manajemen RSU Cengkareng memperketat pengawasan, para calo tidak berani beroperasi di dalam bangunan rumah sakit. Para calo yang pernah ditangkap pihak rumah sakit mengutip biaya Rp 200.000 hingga Rp 500.000 untuk mengurus kartu Gakin atau SKTM dari korban.

Meski demikian, mereka masih berani berkeliaran di sekitar rumah sakit untuk mencari mangsa. Para calo kini kucing-kucingan dengan petugas rumah sakit.

Dalam pantauan di lokasi, pengawasan di RSU Cengkareng relatif ketat karena ada petugas keamanan yang mengawasi lalu lalang pengunjung yang hendak masuk ke ruang perawatan.

Menurut Budiman, RSU Cengkareng menempati peringkat kedua setelah RSCM sebagai tempat perawatan pasien Gakin dan SKTM terbanyak di Jakarta.

Sejauh ini hampir 90 persen pasien RSU Cengkareng yang berkapasitas 150 tempat tidur tergolong sebagai pasien tidak mampu. Total tagihan pasien tidak mampu periode Januari-Oktober 2008 mencapai Rp 11,9 miliar.

Pura-pura miskin

Selain calo kartu Gakin dan SKTM, Budi menyayangkan masih ada warga mampu yang berpura-pura miskin agar dapat berobat gratis di RSU Cengkareng.

”Kami pernah menangani seorang kakek berusia 70 tahun yang masuk ICU selama lima hari yang menelan biaya Rp 10 juta. Keluarga pasien mengaku yang bersangkutan adalah orang tidak mampu. Sewaktu pasien keluar dari rumah sakit, ternyata ada sebuah Mercedes Benz C-180, dua Toyota Kijang Innova, Honda City, dan Toyota Kijang model lama yang menjemput kakek tersebut,” kata Budiman.

Kasus itu bukan kasus pertama dan dibenarkan Agung Rusiana, Penanggung Jawab Pendaftaran Pasien RSU Cengkareng.

Agung menambahkan, ada pasien miskin yang berpenampilan perlente dan membawa telepon genggam yang harganya di atas Rp 5 juta per unit. Kasus kakek dan keluarga kaya yang masuk ICU bukan merupakan pasien pertama yang dijemput mobil mewah setelah dirawat dengan status sebagai pasien miskin.

Dalam pantauan, pintu samping untuk pasien dan keluarga yang berjalan kaki di RSU Cengkareng jarang dilewati. Sebaliknya mobil dan motor berlalu lalang masuk ke RSU Cengkareng.

Budiman berharap ada sistem yang tepat sasaran dalam pemberian SKTM dan kartu Gakin. (ONG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau