Namun, semua itu belum mampu membalikkan ekspektasi negatif dan membawa krisis global ke titik dasarnya.
Situasi dewasa ini, seperti digambarkan Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia Pascal Lamy, bisa dilukiskan hanya dengan dua kata: pesimisme dan ketakutan. Pekerja ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Pelaku usaha ketakutan tak akan mendapatkan kredit untuk membiayai kegiatan usahanya. Pemerintah ketakutan penurunan tajam perdagangan akan melumpuhkan mesin pertumbuhan.
Kepercayaan bisnis dan konsumen berada pada titik terendah. Sektor keuangan dan perekonomian dipenuhi oleh zombie, lembaga-lembaga keuangan dan korporasi raksasa yang secara teknis sudah bangkrut dan hidup dari suntikan besar dana pemerintah atau bank sentral.
Kondisi ekonomi global terus memburuk sejak krisis kredit macet perumahan (subprime mortgage) menyeruak di AS, Juli 2007. Perekonomian dunia nyaris tak bergerak, diperkirakan hanya tumbuh 0,5 persen tahun ini, dengan perekonomian negara maju tumbuh negatif 2 persen dan negara-negara berkembang positif 3,3 persen.
Pertumbuhan positif terutama disumbangkan oleh perekonomian negara-negara yang tengah bertumbuh (emerging markets) yang sangat bergantung pada perdagangan. Dengan volume ekspor global yang diperkirakan mengalami kontraksi 2,8 persen tahun ini dan investasi modal swasta merosot 82 persen tahun lalu, pijakan emerging markets Asia sebagai benteng terakhir perekonomian global juga mulai goyah.
Karena itu, ada kekhawatiran perekonomian global semakin memburuk sebelum sempat membaik, kendati dengan stimulus yang digelontorkan, ekonom masih meyakini perekonomian global akan pulih pada 2010, dimotori negara-negara Asia yang diperkirakan sudah mulai bergerak pada akhir 2009.
Seluruh perekonomian macan Asia (Korea, Singapura, Taiwan, Hongkong) sekarang ini sudah dalam resesi. Kekhawatiran terbesar saat ini adalah risiko terjadinya ”gempa susulan” seperti diingatkan Gubernur BI Boediono dan Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo, karena sekarang ini ibaratnya sistem keuangan di Asia belum terkena.
Spiral deflasi
Kalangan ekonom dan Komite Kebijakan Moneter Federal Reserve, yang pertengahan tahun lalu masih mencemaskan ancaman hiperinflasi, kini mulai mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya deflasi (kecenderungan anjloknya harga-harga) di AS, yang bisa berisiko menyeret perekonomian global semakin dekat ke situasi seperti Depresi Besar 1930-an.
Deflasi memicu terjadinya penurunan ekonomi lebih jauh karena mendorong konsumen menunda pembelian untuk menunggu harga jatuh lebih rendah lagi. Deflasi juga membuat dunia usaha menunda investasi karena khawatir merugi, apalagi jika mereka harus berutang untuk mendanai investasinya.
Krisis global membuat upaya pengurangan kemiskinan global juga terkendala. Organisasi Buruh Internasional memperkirakan, 51 juta lapangan kerja hilang akibat krisis global tahun ini. Artinya, peningkatan angka pengangguran global dari 5,7 persen (2007) dan 6 persen (2008) menjadi 7,1 persen (2009).
Biaya yang sudah dikeluarkan pemerintah dan bank sentral negara maju dan negara berkembang untuk menyelamatkan sektor keuangan dan manufakturnya sudah tak terhitung. Namun, hal ini belum mampu memberikan ketenangan dan membalik ekspektasi negatif. Indeks saham masih bergejolak.
Dengan semakin suramnya prospek ekonomi global, banyak negara berlomba untuk terus menambah stimulus fiskal. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran Bank for International settlements (bank sentral dari bank-bank sentral seluruh dunia) yang mengingatkan, bailout bisa memperburuk krisis finansial dan membahayakan posisi fiskal pemerintah karena sifatnya memindahkan risiko swasta ke neraca keuangan pemerintah.
Kekhawatiran lainnya, krisis akan memicu gelombang proteksionisme (terutama oleh AS), yang semakin mengancam prospek pemulihan perdagangan dan ekonomi global. Lamy mengingatkan, Depresi Besar antara lain juga dipicu aksi AS yang menaikkan secara tajam tarif 20.000-an produk, yang kemudian memicu aksi retaliasi dan perang tarif dari negara-negara mitra dagangnya.
Sejauh ini, perhatian dunia hanya terfokus pada kebijakan penanganan krisis global, sementara koreksi terhadap faktor-faktor yang dianggap ikut mencetuskan tsunami krisis itu sendiri belum banyak disentuh. Serangan terhadap eksekutif Wall Street di Davos menunjukkan dunia menghendaki ditegakkannya good governance pada sistem keuangan global.
Selama fenomena bubble asset, tak transparannya sekuritisasi dan rekayasa keuangan, ketergantungan pada utang secara eksesif, lemahnya regulasi dan regulator yang korup, ideologi pasar yang kebablasan dan maraknya praktik ponzi scheme tak dibenahi, penanganan krisis ibaratnya baru setengah jalan. Dan krisis yang disebut Presiden Bank Dunia Robert Zoellick sebagai bencana buatan manusia bakal terus terulang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang