MULTAN,JUMAT-Sedikitnya 30 orang tewas dan puluhan lain cedera dalam serangan yang diduga bom bunuh diri di luar sebuah masjid Syiah di Pakistan tengah, Kamis (5/2).
Polisi mengatakan, pemboman itu ditujukan pada puluhan orang yang berkumpul di masjid Al-Hussainia pada saat malam tiba di kota Dera Ghazi Khan, di provinsi Punjab, Pakistan tengah, sebelum mereka mengadakan pertemuan keagamaan.
"Jumlah orang yang tewas kini mencapai 30," kata seorang pejabat tinggi keamanan kepada AFP. "Semakin jelas bahwa itu serangan bunuh diri."
Serangan itu merupakan pemboman paling mematikan di Pakistan sejak serangan bom bunuh diri ditujukan pada pertemuan para ketua suku anti-Taliban di daerah perbatasan baratlaut dekat Afganistan pada 10 Oktober. Saat itu, sedikitnya 40 orang tewas.
Gelombang serangan militan di Pakistan, di mana kelompok garis keras menyalahkan keputusan pemerintah bergabung dalam "perang melawan teror" yang dipimpin AS setelah serangan-serangan 11 September 2001, menewaskan lebih dari 1.500 orang dalam waktu 19 bulan.
Meski belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan Kamis itu, polisi segera menuduh kelompok sektarian bertanggung jawab setelah kekerasan-kekerasan serupa di Pakistan, sebuah negara yang berpenduduk mayoritas Sunni.
Orang Syiah mencapai sekitar 20 persen dari penduduk Pakistan yang berjumlah 160 juta jiwa yang mayoritas orang Sunni. Kelompok-kelompok masyarakat itu umumnya hidup berdampingan secara damai, namun kekerasan sektarian telah menewaskan lebih dari 4.000 orang sejak akhir 1980-an.
Militan Taliban dan Al Qaeda yang berpangkalan di kawasan suku Pakistan juga dituduh bertanggung jawab atas serangan-serangan di daerah-daerah baratlaut yang berbatasan dengan Afganistan.
Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan sejak ratusan Taliban dan gerilyawan Al Qaeda melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afganistan.
Pemimpin Al Qaeda di Pakistan dan deputinya tewas pada 1 Januari dalam serangan udara yang diduga dilakukan pesawat tak berawak AS di Waziristan Selatan.
Para pejabat yakin bahwa Usama al-Kini, yang disebut-sebut sebagai pemimpin operasi Al Qaeda di Pakistan, mendalangi serangan bom truk terhadap Hotel Marriott di Islamabad pada September lalu, dan memiliki hubungan dengan serangan-serangan bom pada 1998 terhadap Kedutaan Besar AS di Afrika.
Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan Pakistan digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afganistan.
Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afganistan.
Pakistan menempatkan sekitar 120.000 prajurit di sepanjang perbatasan itu dan menekankan bahwa tanggung jawab menghentikan penyusupan juga bergantung pada pasukan keamanan yang berada di Afganistan.
Pakistan juga menegaskan bahwa setiap tindakan terhadap militan di dalam wilayah Pakistan akan dilakukan oleh pasukan Pakistan.
Hubungan antara AS dan Pakistan, dua sekutu utama dalam perang melawan terorisme, tegang akibat peningkatan serangan udara AS akhir-akhir ini dan serangan darat di kawasan suku tersebut.
Menurut militer Pakistan, lebih dari 1.500 militan tewas sejak mereka melancarkan ofensif di Bajaur pada awal Agustus, termasuk komandan operasional Al Qaeda di kawasan itu, Abu Saeed Al-Masri yang berkebangsaan Mesir.
Daerah itu juga dihantam serangan rudal yang hampir mengenai Ayman al-Zawahiri, orang kedua Osama bin Laden, pada Januari 2006.
Terdapat sekitar 70.000 pengungsi Afganistan di Bajaur, yang tinggal di sana sejak akhir 1970-an setelah mereka melarikan diri dari invasi Uni Soviet ke Afganistan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang