BOJONEGORO, JUMAT - Banjir luapan Bengawan Solo di wilayah Bojonegoro, Lamongan, hingga Gresik Jumat (6/2) surut. Namun warga diimbau tetap waspada sebab ketinggian air pada papan pantau ketinggian air di Karangnongko ada kecenderungan naik, sedangkan di wilayah Bojonegoro Kota masih menunjukkan siaga II.
Hingga Jumat banjir masih menggenangi enam desa di Kecamatan Baureno yakni Desa Lebaksari, Kalisari, Tanggungan, Kadungrejo, Pomahan dan Karangdayu. Ketinggian air rata-rata 30 sentimeter. Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Bojonegoro, Johny Nurhariyanto menyebutkan genangan air masih merendam 274 rumah, 2.139 hektar sawah dan 147 hektar ladang.
Satu kontruksi jembatan yang menjadi akses menuju Desa Tanggungan, Kalisari dan Lebaksari, Kecamatan Baureno kondisinya miring akibat banjir. Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bojonegoro, Andu Tjandra perbaikan jembatan diperkirakan menelan dana Rp 150 juta hingga Rp 200 juta. Infrastruktur jalan di Kecamatan Kanor, Baureno, Malo, Trucuk, Kalitidu dan Kecamatan Padangan rusak parah hingga puluhan kilometer. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 19,5 miliar.
Bupati Bojonegoro, Suyoto kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan beberapa wilayah di Bojonegoro belum memiliki tanggul pembatas sehingga begitu Bengawan Solo meluap langsung terendam. Pada banjir kali ini Pemkab Bojonegoro memberikan perhatian khusus untuk meninggikan dan memperkuat tanggul di enam titik di Kecamatan Kanor yakni di Desa Sarangan, Kabalan, Dusun Grape Desa Kanor, Pilang, Kedungarum dan tanggul di Desa Kedungprimpen. Tanggul di Kanor diperkuat untuk mengamankan 7.000 hektar sawah siap panen.
Di Lamongan kondisi lokasi banjir juga surut termasuk di Desa Truni dan Bedahan Kecamatan Babat. Banjir tinggal menggenangi pekarangan dan persawahan. Kondisi air ini akan semakin turun drastis jika kondisi pasang laut mulai surut sehingga saluran buang di Laren akan semakin banyak membuang air Bengawan Solo.
Berdasarkan data Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Lamongan luapan Bengawan Solo yang melanda wilayah Lamongan merendam 506 rumah yang dihuni 2.024 jiwa. Kebanyakan areal yang terendam berada di bantaran Sungai Bengawan Solo atau Solo Valley yang sejak zaman Belanda digunakan menampung luberan Bengawan Solo untuk kemudian dialirkan ke waduk-waduk.
Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Lamongan, Aris Wibawa menyebutkan wilayah yang tergenang sebanyak 12 desa di lima kecamatan. Wilayah yang terendam yakni Desa Truni, Banaran dan Bedahan Kecamatan Babat, Desa Laren, Pelangwot, Pesanggrahan, Keduyung, Centini, Durikulon, Gampang Sejati dan Siser (Laren), Desa Mendolo (Glagah). Tujuh desa lainnya yang dilanda banjir di Kecamatan Kalitengah meliputi Desa Pengangsalan, Butungan, Kalitengah, Kediren, Kuluran, Candi Tunggal dan Sugih Waras.
Rumah yang paling banyak tergenang berada di Kecamatan Laren sebanyak 245 rumah dihuni 980 jiwa, di Babat 177 rumah yang dihuni 708 jiwa. Di Kalitengah banjir hanya menggenangi lahan pertanian sebanyak 104 hektar palawija dan 34 hektar padi. Lembaga pend idikan tergenang terdiri dari satu TK di Babat, tiga SD di Babat dan Laren serta satu MI di Laren. Total lahan pertanian yakni 152 hektar palawija dan 47 hektar padi.
Sekitar 543 hektar lahan pertanian bantaran Bengawan Solo di wilayah Kecamatan Kalitengah, Karanggeneng, Babat, Laren, dan Karangbinangun Kabupaten Lamongan terancam gagal panen. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Lamongan, Djonot Subagjo menyebutkan data sementara lahan tanaman jagung yang rusak seluas 301 hektar, padi 192 hektar, dan 50 hektar palawija.
Di Gresik banjir menerjang 11 desa di Kecamatan kecamatan Dukun dan 11 desa di Kecamatan Bungah. Di Dukun banjir merendam 50 rumah, 357 hektar sawah, 116 hektar tambak, 1,20 kilometer jalan desa, dan satu tempat ibadah. Sedangkan di Kecamatan Bungah banji r menerjang 219,5 hektar sawah, 140,8 hektar tambak dan 168 rumah.
Camat Dukun, Sedya Utama wilayah Kecamatan Dukun yang terendam yakni Desa Jedong, Karang Cangkring, Tirem Enggal, Madu Mulyorejo, Dukuh Kembar, Baron, Bangeran, Babaksari, Jerebeng dan Kalirejo. Kondisi paling parah di Desa Babakansari dan Baron. Jalan de sa terendam hingga satu meter sehingga sebagian warga menggunakan perahu.
Di Dukun ada beberapa titik tanggul jebol di antaranya di Desa Kalirejo masing-masing sepanajang 14 meter dan lima meter. Warga membendungnya dengan karung plastik berisi tanah liat dan lubang yang jebol ditutup baliho berukuran 3 meter x 4 meter.
Sementara itu tanggul di Dusun Petisari Desa Babakansari jebol. Akibatnya 30 hektar sawah siap panen milik warga dan 30 rumah terendam. "Kami sudah mengusulkan pembuatan tanggul ke pemkab Gresik tetapi sampai kini belum terealisasi karena menjadi wewenang Balai Besar Bengawan Solo," kata Kepala Desa Babakansari, Sholihuddin.
Adapun di Bungah banjir melanda Desa Mojopuragedhe. Mojopura Wetan, Melirang, Sidorejo, Masangan, Sukowati, Indrodelik, Sungonlegowo, Sukorejo, Bungah dan Bedanten. Camat Bungah Darmawan menyatakan daereh Kiring dan Pucung kritis karena tanggul rawan jebol. Sementara di Kalingaren Desa Sungonlegowo tanggul nyaris jebol sepanjang 4 meter dengan kedalaman 2 meter. "Di Tunggaklumpang air meluber dan tanggul terancam terkikis. Kini 106,7 hektar tambak terendam," kata Darmawan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang